Warga Serangan Gelar Upacara Memintar Keliling Desa untuk Penolak Bala
- Maha Liarosh/VIVA Bali
Denpasar, VIVA Bali –Di penghujung tahun 2025 masyarakat Desa Serangan, Denpasar, Bali, menggelar upacara Memintar untuk menghilangkan wabah penyakit atau penolak bala. Ritual ini digelar pada Jumat, 19 Desember 2025.
Upacara yang diikuti sekitar 2000 warga Desa Serangan dari seluruh banjar itu digelar sebagai puncak rangkaian pemintaran Ida Bathara Kala Pelawatan. Upacara ini dilakukan secara turun temurun dan menjadi tradisi masyarakat Desa Serangan.
Ritual memintar dengan mengelilingi desa dan singgah ke setiap pura itu dilakukan setiap tahun pada tilem keenam. Sebelum upacara Memintar, warga Serangan telah melakukan vibrasi Mecaru selama sebulan untuk proses mencari tilem ke enam.
Setelah melaksanakan Mecaru, pada tilem ke enam dilakukan upacara memintar yang dimulai dengan ritual dari Pura Dalem Khayangan Serangan, lalu memutari Pulau Serangan menggelar ritual dengan mengeluarkan Pretima yang ada di Pura.
Benda-benda yang disakralkan itu diarak mengelilingi kawasan Pulau Serangan dan melewati semua Pura di dalam KEK Kura-Kura dan kembali melanjutkan ritual di Pura Dalem Khayangan.
"Memintar ini diawali dengan adanya wabah yang terjadi di Desa Serangan. Makanya dilakukan Memintar untuk Upacara penolak bala," jelas Kepala Komunikasi PT BTID Zefri Alfaruqy kepada Bali.viva.co.id di Denpasar, Jumat, 19 Desember 2025.
Zefri menjelaskan, upacara adat Memintar yang digelar oleh masyarakat desa Serangan dan PT BTID ini merupakan tradisi turun temurun sejak 1966.
Selain sebagai penolak bala Memintar yang dilakukan setiap tahun juga bertujuan untuk menjaga keamanan tetap kondusif. Memintar dilakukan dengan mengelilingi beberapa pura di kawasan BTID Serangan.
"Kenapa Memintarnya sampai ke BTID? karena kebetulan di dalam kawasan BTID ada 8 pura. Jadi kita akan mengelilingi pura tersebut dan diakhiri di pintu keluar kawasan KEK Kura Kura Bali," ujar Zefri.
Zefri menambahkan, BTID juga terus menjalin kerjasama dengan Warga Desa Serangan untuk terus melestarikan tradisi sakral tahunan ini.
"Memintar ini merupakam kegiatan spiritual dan kegiatan budaya yang secara insklusif juga bisa dinilmati oleh karyawan dan keluarga dari Kura Kura Bali, supaya lebih mengenal lagi upacara keagamaan di Bali dan juga melestarikan budaya Bali yang tidak hanya dinikmati warga Bali tapi juga bisa dinikmati oleh para pendatang," kata Zefri.