BPS Sebut Angkatan Kerja RI Naik, Tapi Mayoritas Masih Lulusan SD
- Antara/Destyan H. Sujarwoko
Jakarta, VIVA Bali –Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angkatan kerja RI terus naik, mencapai 154 juta orang, tapi mayoritas masih lulusan SD.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk usia kerja (PUK) di Indonesia pada Agustus 2025 mencapai 218,17 juta orang, meningkat 2,80 juta orang dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Data ini menunjukkan tren pertumbuhan angkatan kerja yang stabil, namun mayoritas pekerja masih berasal dari lulusan Sekolah Dasar (SD).
Dikutip dari antaranews.com, laporan BPS menyebutkan bahwa dari total PUK, sebanyak 154 juta orang masuk angkatan kerja, sedangkan 64,17 juta orang termasuk bukan angkatan kerja.
“Komposisi angkatan kerja pada Agustus 2025 terdiri dari 146,54 juta orang penduduk bekerja dan 7,46 juta orang penganggur,” jelas laporan tersebut. Kamis, 6 November 2025.
Jika dibandingkan dengan Agustus 2024, jumlah angkatan kerja bertambah 1,89 juta orang, sementara penduduk yang bekerja meningkat 1,90 juta orang.
Di sisi lain, jumlah pengangguran sedikit menurun sekitar 4.000 orang, menandakan adanya pergeseran positif dalam dunia kerja di Indonesia.
Meski jumlah pekerja meningkat, data BPS mengungkapkan bahwa 34,75% penduduk bekerja memiliki pendidikan SD atau lebih rendah, menunjukkan masih tingginya proporsi tenaga kerja dengan pendidikan dasar.
Pekerja berpendidikan SMA mencapai 21,19%, SMP 17,11%, dan SMK 13,89%.
Sementara lulusan Diploma IV hingga S3 hanya 10,84%, meskipun angka ini menunjukkan tren peningkatan sejak 2023.
Sedangkan lulusan Diploma I–III tercatat 2,22%.
Distribusi ini menjadi indikator penting bagi pemerintah dalam meningkatkan kualitas tenaga kerja melalui pelatihan vokasi dan pendidikan tinggi.
Dengan mayoritas pekerja berpendidikan rendah, pemerintah didorong untuk memperluas program pendidikan vokasional, magang industri, dan peningkatan keterampilan teknis agar produktivitas tenaga kerja nasional meningkat.
Mayoritas pekerja lulusan SD menunjukkan potensi untuk ditingkatkan melalui pelatihan keterampilan praktis, terutama di sektor manufaktur, pertanian, dan jasa.
Tren ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk memadukan pendidikan vokasional dan industri, sehingga lulusan angkatan kerja baru siap menghadapi tuntutan pasar kerja modern.
BPS menekankan, pendidikan dan keterampilan menjadi kunci dalam menurunkan angka pengangguran sekaligus meningkatkan daya saing nasional.
Program pelatihan dan pengembangan SDM diharapkan mampu menutup kesenjangan antara jumlah pekerja terampil dan kebutuhan industri yang semakin kompleks.