Data BPS, Bali Alami Kenaikan Inflasi Hingga 2,61 Persen pada September 2025
- Maha Liarosh/VIVA Bali
Denpasar, VIVA Bali –BPS Provinsi Bali menyebutkan, perkembangan harga gabungan kabupaten/kota perhitungan inflasi di Provinsi Bali pada Oktober 2025 secara bulanan mengalami inflasi sebesar 0,16% (mtm), setelah bulan sebelumnya mengalami deflasi sebesar -0,01% (mtm).
Secara tahunan, inflasi Provinsi Bali mengalami kenaikan menjadi 2,61% (yoy) dari 2,51% (yoy) pada September 2025. Inflasi Bali pada Oktober 2025 secara tahunan lebih rendah dibandingkan Nasional yang sebesar 2,86% (yoy).
Secara spasial, 3 Kota/Kabupaten di Bali mengalami inflasi bulanan pada Oktober 2025.
Tabanan mengalami inflasi tertinggi sebesar 0,34% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 2,26% (yoy), diikuti Badung sebesar 0,31% (mtm) atau 1,65 (yoy). Selanjutnya, Singaraja mengalami inflasi bulanan sebesar 0,28% (mtm) atau inflasi tahunan 2,47% (yoy). Sementara itu, Kota Denpasar mengalami deflasi pada Oktober 2025 yakni sebesar -0,02% (mtm) atau 3,29% (yoy).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja mengatakan, secara bulanan, inflasi di Provinsi Bali terutama disumbang oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau, seiring dengan keterbatasan pasokan di tengah periode musim kemarau basah.
"Berdasarkan komoditasnya, secara bulanan inflasi Oktober 2025 terutama bersumber dari kenaikan harga komoditas cabai merah, sawi hijau, daging ayam ras, emas perhiasan, dan jeruk," jelas Erwin dalam keterangan persnya yang diterima bali.viva.co.id pada Senin, 3 November 2025.
Sementara itu, inflasi yang lebih dalam tertahan oleh penurunan harga komoditas beras, tomat, canang sari, bahan bakar rumah tangga, dan jagung manis.
"Ke depan, beberapa risiko yang perlu diperhatikan antara lain tingginya permintaan barang dan jasa pada periode HBKN Galungan-Kuningan yang bersamaan dengan periode peak season kunjungan wisatawan mancanegara, berlanjutnya kenaikan harga emas dunia, serta kenaikan harga BBM non subsidi pada November 2025," jelas Erwin.
Dikatakan Erwin, ketidakpastian cuaca karena peralihan musim penghujan juga akan berpotensi meningkatkan risiko pertumbuhan hama dan organisme pengganggu tanaman yang dapat mengganggu produksi tanaman pangan dan hortikultura.
Dalam menghadapi potensi tekanan inflasi ke depan dan menyambut HBKN Galungan-Kuningan, Bank Indonesia Provinsi Bali terus memperkuat sinergi dan inovasi bersama Pemerintah Kabupaten/Kota se-Bali melalui implementasi strategi 4K, yaitu Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi yang Efektif.