Budaya Bersih Diri dan Rumah dalam Pakanan Sahur Lewu 2023
- https://palangkaraya.go.id/iahn-tp-palangka-raya-melaksanakan-ritual-pakanan-sahur-parapah/
Budaya, VIVA Bali –Budaya luhur yang disebut membersihkan diri dan rumah adalah budaya yang banyak manfaat dalam ajaran Kaharingan dan kitab Panuturan. Tidak hanya melaksanakan budaya membersihkan diri dan rumah untuk menolak bencana. Tetapi budaya melaksanakan bersih diri dari dosa dan salah dalam ajaran Hindu untuk mendapat pembalasan yang baik bagi pemeluknya. Dinas Komunikasi Informatika, Statistik, dan Persandian Kota Palangkaraya (2023) menguraikan Pakanan Sahur Lewu atau Pakanan Sahur Parapah dilaksanakan di Keramat Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Kota Palangkaraya, Provinsi Kalimantan Tengah dan sekitarnya dengan khidmat dan sesuai dengan ajaran Kaharingan. Mereka (2023) menguraikan sambutan dari Dekan Fakultas Dharma Acarya, Dr. Derson bahwa kegiatan Pakanan Sahur Parapah 2023 ini dilaksanakan dalam rangka memberikan bekal agama atau kerohanian kepada para mahasiswa melalui praktik secara langsung tentang cara menyiapkan sarana dan prasarana ritual Pakanan Sahur Perapah atau Pakanan Sahur Lewu. Pelaksanaan Prosesi Pakanan Sahur Perapah di IAHN Tampung Penyang sudah sesuai dengan ajaran Kaharingan. Pelaksanaan Pakanan Sahur Perapah tahun 2023 dilaksanakan untuk mendapat pembalasan baik seperti dapat ampunan yang lebat menurut ajaran Hindu ataupun ajaran Kaharingan. Ajaran Hindu dikatakan konsep bahwa dalam ajaran Hindu ada tiga kerangka dasar agama Hindu, yang mencakup pemahaman tentang agama, sopan santun kepada para makhluk, dan pelaksanaan upacara atau ibadah, maka disimpulkan dari sini oleh para penganut agama Hindu yang berbeda kebudayaan dan asal-usul agar dapat memaknainya dengan sama.
Pitriyou (2024) mengatakan dalam terjemahan Kitab Suci Weda, ajaran Hindu terdapat tiga kerangka dasar agama Hindu yang mencakup pemahaman tentang agama, sopan santun, dan upacara maka dari sini semua penganut yang berbeda kebudayaan supaya dapat memaknainya dengan sama. Pitriyou (2024) melanjutkan begitu juga ajaran Tri Hita Karana menurut Kitab Suci Weda yang merupakan pemahaman yang dimiliki oleh setiap umat Hindu, termasuk Hindu Kaharingan berupa hubungan terhadap Tuhan yang disebut Ranying Hatalla Langit, sesama Manusia, serta dengan Alam semesta itu sendiri termasuk juga ajaran Tri Hita Karana, yang merupakan pemahaman yang dimiliki oleh setiap umat Hindu, termasuk Hindu Kaharingan, hubungan terhadap Tuhan yang disebut Ida Sanghyang Widhi Warsa, sesama Manusia, serta dengan Alam itu sendiri.