Pletok Bambu dan Serba-Serbi Pendidikan Berbasis Budaya
- https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Permainan_peletokan.jpg
Budaya, VIVA Bali – Ada suara khas yang dulu akrab di telinga anak-anak Indonesia, yaitu bunyi "pletok" dari senjata mainan yang terbuat dari bambu. Inilah kisah tentang Pletokan Bambu, sebuah warisan tak benda yang ternyata membawa misi mulia dalam membentuk karakter dan kecerdasan sosial-emosional generasi penerus bangsa.
Pletokan dibuat dari bambu kecil dan pelurunya bisa berupa kertas basah, biji-bijian, atau bunga, didorong hingga menghasilkan letupan khas. Permainan ini memiliki nama lokal yang berbeda, seperti Bebeletokan di Sunda atau Tor Cetoran di Madura, menunjukkan betapa luasnya jangkauan budaya mainan ini di Nusantara.
Kehadiran teknologi yang serbacanggih telah menyebabkan banyak anak kini bermain secara individu, yang berimplikasi pada kurangnya sikap sosial dan kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Untuk menanggulangi isu ini, pendidikan harus mencari cara belajar yang menyenangkan dan bisa meningkatkan semua unsur kemampuan peserta didik.
Upaya ilmiah untuk memvalidasi nilai budaya ini dilakukan oleh Dian Ning Lasiana, Rina Wijayanti, dan Siti Muntomimah, akademisi dari Universitas PGRI Kanjuruhan Malang. Studi mereka fokus mengamati pengaruh permainan ini pada anak Kelompok B di TK Dharma Wanita Persatuan Duwet, Tumpang, Kabupaten Malang.
Penelitian ini menggunakan pendekatan pre-experimental design dengan skema one-group pretest dan posttest untuk membandingkan kemampuan sosial emosional anak sebelum dan sesudah bermain Pletokan. Permainan ini secara kultural mengajarkan anak untuk mau bermain bersama teman, antusias saat melakukan kegiatan, dan mentaati peraturan yang berlaku. Selain itu, secara alami anak belajar memenuhi indikator perkembangan yang ditetapkan.
Data observasi awal menunjukkan bahwa anak-anak masih memiliki kemampuan sosial-emosional yang didominasi kategori rendah, dengan 41% bahkan masih "belum berkembang". Namun, setelah kegiatan bermain Pletokan Bambu, terjadi pergeseran drastis pada perkembangan anak. Data menunjukkan 36% anak berkembang "sangat baik" dan 29% anak tumbuh "sesuai harapan," menandakan keberhasilan budaya ini sebagai media belajar.
Hasil menggembirakan ini tidak hanya berdasarkan pengamatan, tetapi terbukti secara statistik lewat uji hipotesis Wilcoxon Signed Ranks Test. Uji menunjukkan nilai signifikansi 0,001, yang lebih kecil dari batas 0,05. Oleh karena itu, para peneliti menegaskan bahwa "terdapat pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan sosial emosional anak setelah mendapatkan perlakuan".