Ukwala Mahiate, Tradisi yang Mengajarkan Keberanian dan Persaudaraan
- https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Inbound4752296089510353011.jpg
Tradisi, VIVA Bali –Tidak banyak tradisi di Indonesia yang mampu menampilkan keberanian dan solidaritas seintens Pukul Manyapu, atau dalam bahasa setempat disebut Ukwala Mahiate. Digelar di Negeri Mamala dan Morella, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, tradisi ini sekilas tampak seperti pertarungan fisik. Namun di balik setiap ayunan sapu lidi, tersimpan makna mendalam tentang persaudaraan, penyucian diri, dan penghormatan terhadap sejarah panjang perjuangan rakyat Maluku.
Menurut laman Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, Pukul Manyapu merupakan tradisi turun-temurun yang berakar dari kisah heroik perang melawan penjajah Belanda pada abad ke-16. Setelah memenangkan pertempuran, para pejuang Mamala dan Morella melakukan ritual ini sebagai bentuk syukur sekaligus penyucian diri dari dendam dan amarah. Dengan memukul tubuh satu sama lain menggunakan sapu lidi dari pohon enau, mereka melambangkan semangat keberanian dan pengendalian diri yang tinggi.
Tradisi ini bukan tentang menyakiti, melainkan tentang membersihkan. Seperti yang dicatat oleh Radio Republik Indonesia, meskipun sapu lidi yang digunakan bisa melukai kulit hingga berdarah, para peserta tidak menunjukkan rasa dendam atau permusuhan. Justru, mereka saling tersenyum dan berpelukan setelah ritual selesai.
Pukul Manyapu biasanya digelar setiap tanggal 7 Syawal, tepat seminggu setelah Idul Fitri. Waktu ini bukan dipilih secara kebetulan. Setelah sebulan penuh menahan diri selama Ramadan, masyarakat merayakan kemenangan spiritual dengan tradisi yang menguji fisik. Ini menjadi pengingat bahwa pengendalian diri tidak berhenti di bulan suci saja, tetapi harus terus diwujudkan dalam kehidupan sosial sehari-hari.
Sebelum prosesi dimulai, warga berkumpul di masjid untuk melaksanakan doa bersama, memohon keselamatan dan berkah bagi seluruh peserta. Usai berdoa, dua kelompok dari Mamala dan Morella berdiri berhadapan, masing-masing memegang sapu lidi dan mengenakan pakaian adat khas.
Suasana menjadi tegang namun sakral ketika tanda dimulainya ritual dikumandangkan. Setiap pukulan dilakukan bergantian dan diiringi sorak sorai penonton yang memadati lapangan desa. Sorakan itu bukan sekadar hiburan, melainkan bentuk dukungan atas keberanian dan semangat sportif para peserta.