Jejak Api dan Janji dalam Tradisi Bakar Tongkang Riau
- https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Bakar_tongkang_prosesi.jpg
Budaya, VIVA Bali –Di pesisir Bagansiapiapi, Rokan Hilir, Provinsi Riau, setiap tahun masyarakat menyambut ritual budaya yang membakar semangat dan kenangan, yaitu Bakar Tongkang. Tradisi ini bukan sekadar pesta api atau tontonan wisata, tetapi simbol pengorbanan dan tekad leluhur komunitas Tionghoa yang dahulu menetap di tanah baru.
Menurut penjelasan dari Indonesia Travel, asal-usul tradisi ini bermula dari kisah para migran Tionghoa yang membakar tongkang terakhir mereka sebagai tanda tak akan kembali ke tanah asal. Api menjadi lambang tekad dan rasa syukur, menegaskan bahwa mereka telah menemukan rumah baru. Sejak saat itu, setiap nyala api di Bagansiapiapi membawa pesan: tentang keberanian meninggalkan masa lalu dan tekad untuk memulai kehidupan baru.
Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir menjadikan tradisi ini sebagai agenda tahunan yang selalu dinanti. Menjelang penyelenggaraan tahun 2025, Pemkab bahkan mengadakan rapat khusus untuk memastikan semua aspek berjalan tertib dan meriah. Prosesi ini melibatkan vihara, parade budaya, dan puncaknya adalah pembakaran replika kapal besar yang dihias dengan kertas doa berwarna kuning.
Setiap bagian kapal dibuat dengan ketelitian tinggi oleh para perajin lokal. Di sinilah Bakar Tongkang menunjukkan bahwa ia bukan hanya ritual spiritual, tetapi juga wujud pelestarian seni dan keterampilan masyarakat. Kapal yang dibuat dari kayu dan kertas itu kemudian diarak menuju lokasi pembakaran, disertai doa dan iringan alat musik yang menggema.
Momen paling menegangkan terjadi saat kapal mulai terbakar. Warga berkerumun, menatap api yang menjilat malam. Arah jatuhnya tiang kapal dipercaya membawa pertanda, jika ke laut, rezeki datang dari laut, dan jika ke darat, rezeki datang dari darat. Kepercayaan ini menjadi bentuk harapan kolektif, bahwa kesejahteraan akan berpihak pada mereka yang menjaga tradisi dan menghormati leluhur.
Menariknya, tradisi ini melampaui batas etnis. Meski berakar dari budaya Tionghoa, warga Melayu, Batak, dan Minang ikut berpartisipasi. Mereka saling membantu, menghias kapal, dan menjaga jalannya prosesi. Bakar Tongkang pun menjadi cermin harmoni sosial di Riau, menunjukkan bahwa budaya bisa menjadi jembatan antaridentitas.