Tabia Bun yang Bukan Sekadar Rempah Pedas
- https://distan.bulelengkab.go.id/uploads/konten/46_tabia-bun-nama-lokal-bali-leluhur-sebelum-kedatangannya-cabai-era-sekarang.jpeg
Budaya, VIVA Bali – Tabia bun atau Cabai Jawa (Piper retrofractum Vhal.) adalah warisan etnobotani Nusantara yang menyimpan segudang manfaat. Dikenal di Bali sebagai Tabia dakep atau di Jawa sebagai Cabe jamu, tanaman ini telah digunakan secara turun-temurun sebagai obat tradisional, bumbu masak, dan materi pelengkap ritual.
Kajian teoritik yang mendalam mengenai rempah ini disajikan dalam jurnal “Etnobotani Tabia bun (Piper retrofractum Vhal.) (Kajian Teoritik)”. Ditulis I Nengah Suka Widana, dosen Prodi Pendidikan Biologi FKIP UPMI.
Kekuatan Spiritual dan Filosofis
Di luar aspek rasa pedas, Tabia bun memiliki peran spiritual yang kuat dalam budaya Bali. Tabia bun selalu hadir sebagai sarana penting dalam pembuatan banten (sajen), terutama pada banten pebersihan. Hal ini menguatkan bahwa fungsinya melebihi bumbu masak.
Dihipotesiskan bahwa karena karakteristik dari Tabia bun memiliki daging, akar, daun, serta kulit yang panas, ia memiliki kemampuan sebagai desinfektan dalam konteks upakara. Kajian etnobotani tradisionalnya di Bali, khususnya mengenai pengobatan, banyak merujuk pada Lontar Taru Pramana.
Rahasia Pengobatan Leluhur
Lontar Taru Pramana memuat ajaran tentang tumbuhan yang berkhasiat sebagai obat, berfungsi sebagai resep dari gejala atau penyakit. Salah satu fungsi utamanya yang jarang diketahui masyarakat adalah sebagai obat penyakit epilepsi (ayan).
Berdasarkan kutipan lontar tersebut, Tabia bun digunakan sebagai jamu atau obat penyakit Epilepsi (loloh ayan), dengan campuran daun lada tua, endapan asam, dan temu tis. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan tradisional setempat telah lama memanfaatkan kandungan tanaman ini untuk kesehatan.
Bukti Ilmiah dari Fitokimia
Kajian fitokimia modern memvalidasi khasiat tradisional Cabai Jawa. Buahnya mengandung berbagai senyawa aktif, termasuk alkaloid piperin, kavisin, dan piperidin. Selain itu, ditemukan juga saponin, polifenol, minyak atsiri, dan sesamin.
Karena kandungan yang melimpah ini, Tabia bun digunakan sebagai obat untuk mengatasi banyak penyakit, pada manusia dan hewan. Sebagai obat tradisional, buahnya digunakan sebagai stimulan, karminatif, tonik, dan perawatan ibu melahirkan.
Manfaat medisnya mencakup pengobatan demam, asma, kejang perut, tekanan darah rendah, bronchitis, dan radang mulut. Uji klinis bahkan menunjukkan bahwa ekstrak buah cabai jawa dapat bertindak sebagai fitofarmaka androgenik.