Nariuk Bukan Sekadar Tradisi, Ini Akar Budayanya

Nariuk Dayak Maanyan, Kalimantan Tengah
Sumber :
  • https://bali.viva.co.id/gumi-bali/10109-praktik-berburu-dalam-festival-nariuk-2025

Budaya, VIVA Bali – Kearifan lokal dalam Suku Dayak Maanyan berupa berburu hewan hingga sejarah Kerajaan Nan Sarunai. Menjalankan tradisi leluhur adalah melanjutkan sistem budaya yang bukan sekadar tradisi luhur. Masyarakat Suku Dayak Maanyan yang tinggal di Banua Lima memiliki sejarah Prosesi Nariuk.

img_title Pemprov NTB Telusuri Jejak Warisan Budaya yang Tersimpan di Australia

Nilai-nilai adat dan kepercayaan masyarakat sebelum agama dari luar masuk untuk memohon rezeki ditemukan dalam Tradisi Nariuk menurut budaya Dayak Maanyan di Provinsi Kalimantan Tengah. Dilansir dari Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Barito Timur (2022) menguraikan Nariuk biasanya dilakukan pada saat musim kemarau dengan menggunakan tombak khusus di sungai-sungai di Kalimantan Tengah.

Disimpulkan dari Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Barito Timur (2022)  Tombak ini disebut dengan Tariuk, yang mana bilah tombak terbuat dari bambu yang panjang dan ujungnya menggunakan besi tajam.

img_title Sistem Adat dalam Teknik Menenun Tradisional di Sulawesi Selatan

Fungsi syahdu Nariuk adalah untuk menjaga lingkungan dan tidak melanggar hukum adat Dayak Maanyan khususnya hukum adat di Banua Lima, Kalimantan Tengah selama berburu. Dilansir dari Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Barito Timur (2022) Sebelum melaksanakan tradisi Nariuk, dilakukan ritual adat untuk meminta izin secara religius bagi penguasa alam yang ada di lokasi tersebut, Talamana Tuah Hukat agar tidak terjadi suatu hal yang menyebabkan pelanggaran terhadap adat dan hukum adat setempat.

Sejarah Nariuk

img_title Sistem Hukum Adat dalam Tradisi Nondoi Suku Paser

Nariuk memiliki sejarah dan keunikan fisik ketika Tariuk mengenai ikan yang diburu. Dilansir dari Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Barito Timur (2022) bahwa apabila ujung Tariuk di dasar sungai mengenai sasaran, maka ujung lainnya akan bergetar dan mengeluarkan bunyi. Dilansir dari Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Barito Timur (2022) Apabila ikan terkena tombak, maka masyarakat harus segera menyelam dan mengambil ikan tersebut dari sungai hingga kedalaman 10 meter.

Nariuk melewati zaman Kerajaan Nan Sarunai menuju zaman sekarang. Tradisi ini menjadi lambang budaya Kabupaten Barito Timur setiap tahun. Tradisi Nariuk sesuai dengan hukum adat Dayak Maanyan karena akar budayanya dari hukum adat Dayak Maanyan mengenai cara menjaga lingkungan. Dilansir dari Effendie (2026) Nariuk, tradisi menombak ikan khas Suku Dayak Maanyan itu telah menjadi lambang budaya Barito Timur setiap tahunnya. Dilansir dari Pemerintah Kabupaten Kapuas (2018) bahwa Masyarakat Dayak Maanyan mengikuti akar hukum adat yang digariskan oleh nini punyut atau para tokoh adat Dayak Maanyan terdahulu untuk menjaga keseimbangan alam.

Halaman Selanjutnya
img_title