Sistem Adat dalam Masyarakat Baduy Lebak
- https://bantenprov.go.id/berita/mengenal-kearifan-lokal-warga-kanekes-baduy
Budaya, VIVA Bali – Adat rakyat sangat menjunjung nilai sosial. Adat rakyat ini digelar dengan masuyawarah untuk memelihara budaya. Budaya memiliki pelajaran hidup. Pelajaran hidup yang menggambarkan pentingnya semangat persatuan, kesatuan, dan kebersamaan. Ini digambarkan dengan arti yang mendalam dan sistematis. Maka budaya memiliki norma. Norma sistematis adalah budaya yang menerangkan sistem adat di suatu daerah. Norma adat ini ditemukan dalam Suku Baduy, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.
Suku Sunda Baduy atau yang lebih dikenal dengan Suku Baduy hidup berdampingan dengan alam dan memiliki sistem adat yang memelihara tradisi dan kearifan lokal. Dilansir dari Pemerintah Provinsi Banten (2024) bahwa Suku Baduy merupakan suku asli Indonesia yang berada di Pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Pemerintah Provinsi Banten (2024) mengutarakan Suku Baduy atau warga Kanekes hidup berdampingan dengan alam dan masih menjaga tradisi dan kearifan lokal.
Suku Baduy dibagi menjadi 2 golongan: Suku Baduy Dalam dan Baduy Luar menurut pikukuh atau aturan adat. Dikutip dari Pemerintah Provinsi Banten (2024) bahwa Suku yang satu ini terbagi dalam dua golongan yaitu: Baduy Dalam dan Baduy Luar. Dilansir dari Pemerintah Provinsi Banten (2024) menyimpulkan bahwa perbedaan dari kedua suku ini adalah dalam menjalankan pikukuh atau aturan adat.
Sistem Pikukuh Karuhun Baduy Dalam dan Baduy Luar
Sistem Adat Baduy dimulai dari warna pakaian masyarakat adat Baduy Dalam yang serba putih dan mengenakan ikat kepala putih. Selanjutnya, masyarakat adat Baduy Luar yang serba hitam dan mengenakan ikat kepala bermotif Tapak Kebo biru tua. Dilansir Pemerintah Provinsi Banten (2026) bahwa masyarakat Baduy Dalam menggunakan pakaian serba putih dengan ikat kepala berwarna putih pula, sedangkan masyarakat Baduy Luar menggunakan pakaian serba hitam dengan ikat kepala batik motif tapak kebo berwarna biru tua dan terdapat perbedaan lainnya.
Suku Baduy Dalam dan Luar menggunakan Bahasa Sunda Banten sebagai bahasa sehari-hari. Dikutip dari Pemerintah Provinsi Banten (2024) Sebagai bagian atau rumpun dari etnis Sunda, Suku Baduy menggunakan Bahasa Sunda Banten sebagai bahasa sehari-hari. Dikutip dari Pemerintah Provinsi Banten (2024) bahasa ini digunakan pada hampir seluruh masyarakat Baduy, baik itu Baduy Dalam, maupun Baduy Luar, oleh karena itu Tradisi Seba Baduy dilaksanakan secara tahunan bisa dirayakan oleh masyarakat Baduy Dalam dan Baduy Luar tanpa perdebatan.