Eco‑Print, Runway Busana Serat Daun di Bali
- https://jadesta.kemenparekraf.go.id/imgpost/147019.jpg
Eco‑Print Fashion Show di Bali
- Waktu dan Lokasi
Eco‑Print Fashion Show digelar pada 22–23 Februari 2025 di Plaza Kori Agung, Denpasar, dalam rangka Denpasar Fashion Show 2025 yang rutin diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kota Denpasar. Acara ini menjadi puncak rangkaian Denpasar Creative Week, menampilkan 14 model profesional yang berjalan di runway kayu bercirikan panggung terbuka.
- Penyelenggara dan Mitra
Penyelenggara utama adalah Dinas Pariwisata dan Dekranasda Kota Denpasar, bekerja sama dengan Bali Fashion Network dan Paramatex sebagai sponsor tekstil berkelanjutan. Dukungan akademisi Universitas Negeri Malang (Etty Soesilowati dkk.) serta balai riset KLHK memperkaya dimensi edukatif acara melalui lokakarya dan diskusi panel.
Koleksi dan Desainer Unggulan
Beberapa desainer menampilkan koleksi eco‑print inovatif:
1. Adriyani Syarivati (Sya.EcoPrint): Memadukan motif daun jati dan bunga frangipani pada silk organza, menghasilkan efek gradasi warna alami.
2. Harini Eco Bali: Kolaborasi dengan Kuta Fashion Week 2025, karya hijab ecoprint dengan teknik steaming, memanfaatkan kunyit, secang, dan indigo sebagai pewarna utama.
3. Fortuna Bali Fashion: Menjelajahi kombinasi endek tenun dan eco‑print ranting bambu, menunjukkan dialog antara tenun tradisional dan cetakan tumbuhan.
Setiap koleksi menekankan prinsip zero‑waste menghindari kancing plastik, zipper, dan bahan sintetis serta teknik jahit tradisional tanpa vislin, mendukung keberlanjutan produk.
Dampak Sosial‑Ekonomi dan Lingkungan
- Pemberdayaan UMKM
Pelibatan UMKM lokal dalam rantaian pasok eco‑print membuka peluang usaha baru. Data Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan Kabupaten Badung menunjukkan peningkatan jumlah pelaku ecoprint dari 12 pada 2023 menjadi 25 pada pertengahan 2025. Ini mendorong peningkatan pendapatan rata‑rata pelaku hingga 15% per kuartal.
- Konservasi Lingkungan
Penggunaan bahan alami mengurangi limbah cair berbahaya dari industri tekstil. Sebuah studi MDPI menyebutkan eco‑print dapat menekan emisi karbon hingga 30% dibandingkan proses pewarnaan sintetis. Selain itu, sisa bahan tanaman dapat dijadikan kompos, menciptakan siklus ekonomi hijau.
Dukungan Pemerintah dan Regulasi
- Kebijakan dan Insentif
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (kemenparekraf.go.id) mengeluarkan program “1000 Desa Wisata Berkelanjutan” yang mencakup pelatihan eco‑print sebagai salah satu komponen pengembangan desa wisata. Sementara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (klhk.go.id) memfasilitasi sertifikasi produk ramah lingkungan untuk UMKM eco‑print.