Gandrung Sewu Banyuwangi! Sejarah, Prosesi dan Filosofi

Prosesi Gandrung Sewu.
Sumber :
  • https://www.instagram.com/p/DQOwwB8AQn2/?igsh=MXBkaTE5ZXF4OTFkMA==

Budaya, VIVA BaliBanyuwangi menyuguhkan keindahan budaya melalui Gandrung Sewu, festival tari kolosal yang memikat ribuan penonton setiap tahunnya. Acara ini menampilkan ribuan penari Gandrung yang memadukan kesenian tradisional dengan semangat modernitas, sekaligus menjadi ikon kebudayaan dan pariwisata Kabupaten Banyuwangi.

img_title Sistem Adat Negeri Haruku dalam Tradisi Sasi Lompa

Gandrung Sewu membuktikan bahwa tradisi bisa bertransformasi menjadi festival budaya modern tanpa kehilangan makna sejarahnya. Acara ini melestarikan warisan budaya, memperkenalkan Gandrung ke dunia, dan memperkuat identitas masyarakat Banyuwangi. Festival ini bukan hanya hiburan, tetapi simbol kolaborasi, harmoni, dan kebanggaan lokal yang menghubungkan masa lalu dan masa depan.

 

img_title Sistem Adat Melayu Rokan Hilir dalam Tradisi Menyemah Laut

Sejarah Gandrung Sewu

Gandrung merupakan tarian asli Banyuwangi yang lahir pada abad ke-18. Tarian ini awalnya dibawakan oleh laki-laki, dikenal sebagai paju, untuk menghibur tentara dan masyarakat setempat. Pergeseran signifikan terjadi pada 1895 ketika Semi, seorang gadis, menjadi penari Gandrung perempuan pertama. Hal ini menandai perubahan peran tarian yang kini lebih identik dibawakan oleh perempuan.

img_title Sistem Motif dalam Batik Jambi

Makna awal Gandrung terkait dengan rasa syukur atas panen melimpah dan penghormatan kepada Dewi Sri. Selain itu, tarian ini juga menjadi ajakan untuk sadar setelah bersenang-senang, yang dalam bahasa lokal disebut nggandrung. Festival Gandrung Sewu pertama kali diselenggarakan pada 17 November 2012, bertujuan mengenalkan kebudayaan Banyuwangi ke khalayak luas dan memposisikan Gandrung sebagai simbol identitas daerah.

 

Prosesi Gandrung Sewu

Festival ini melibatkan ribuan penari Gandrung yang menari secara serentak di sepanjang Pantai Boom. Penari mengenakan kostum tradisional khas Banyuwangi, menonjolkan warna merah dan emas yang mencolok. Latar belakang Selat Bali menambah keindahan visual pertunjukan, sementara musik tradisional memadukan unsur Jawa dan Bali, termasuk biola, kendang, rebana, ketuk, kenong, dan kluncing.

Setiap tahun, festival mengangkat tema berbeda. Misalnya, tema “Omprog: Seni Menuju Keagungan” menggambarkan pergulatan batin sosok Gandrung sekaligus menyampaikan nilai-nilai sosial dan moral kepada penonton.

 

Filosofi Gandrung Sewu

Gandrung Sewu bukan sekadar hiburan, tetapi juga sarat makna budaya. Ribuan penari yang tampil bersamaan melambangkan kebersamaan dan kerja sama dalam masyarakat. Tari Gandrung juga mengajarkan harmoni dengan alam, keseimbangan hidup, dan kesederhanaan.

Halaman Selanjutnya
img_title