Menguak Ritual Pasola, Perang Adat Legendaris dari Tanah Sumba
- https://www.instagram.com/p/BtYIM0jAgfb/?igsh=MTQxMTk4ZmM0Znltaw==
Tradisi, VIVA Bali –Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, tak hanya dikenal karena keindahan alamnya yang eksotis, tetapi juga karena kekayaan budaya yang unik dan sakral. Salah satu tradisi paling megah dan mendunia dari tanah Sumba adalah Pasola, sebuah ritual perang adat antara dua kelompok penunggang kuda yang saling melempar lembing kayu di atas padang luas. Pasola berasal dari Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, dan dilaksanakan setiap tahun pada bulan Februari hingga Maret. Waktu pastinya ditentukan oleh para Rato setelah ritual Nyale tradisi mencari cacing laut yang menjadi tanda restu leluhur. Lokasi utama pelaksanaan Pasola berada di beberapa kampung adat di Sumba Barat, seperti Kodi, Lamboya, Wanokaka, dan Gaura. Makna utama dari tradisi ini adalah rasa syukur atas panen, penghormatan terhadap leluhur, serta simbol kesuburan tanah.
Untuk dapat menyaksikan ritual ini, wisatawan tidak dikenai tiket masuk resmi, namun biasanya diminta memberikan kontribusi lokal sekitar Rp25.000 hingga Rp50.000. Keunikan Pasola terletak pada perpaduan antara ketangkasan para penunggang kuda, tradisi sakral masyarakat Sumba, serta panorama alam yang menakjubkan di tengah padang hijau luas. Tak heran, Pasola menjadi salah satu daya tarik budaya paling menawan di Indonesia bagian timur yang telah mendunia.
Kata Pasola berasal dari kata “sola” atau “hola,” yang berarti lembing kayu dengan ujung tumpul. Menurut legenda masyarakat Sumba, Pasola bermula dari kisah cinta segitiga yang berujung kesedihan dan salah paham. Namun, pertarungan yang semula menimbulkan perpecahan itu justru berubah menjadi simbol perdamaian, kebahagiaan, dan persaudaraan antarwarga.
Tradisi ini merupakan bagian dari kepercayaan Marapu, agama lokal masyarakat Sumba yang masih dijaga hingga kini. Bagi masyarakat Sumba, darah yang menetes saat Pasola dianggap membawa kesuburan bagi tanah dan hasil panen. Karena itu, pertarungan yang terjadi bukan dimaknai sebagai kekerasan, melainkan sebagai ritual spiritual untuk menyeimbangkan alam dan kehidupan manusia.
Pelaksanaan Pasola
Sebelum Pasola berlangsung, masyarakat harus lebih dulu menggelar Upacara Nyale tradisi mencari cacing laut (nyale) di tepi pantai saat bulan purnama. Cacing laut ini dipercaya sebagai tanda restu alam dan leluhur bahwa musim panen akan tiba.