Fenomena Gunung Menangis di Sembalun Picu Kepanikan Warga

Air terjun dadakan mengalir deras dari perbukitan Sembalun usai hujan
Sumber :
  • KPH Rinjani/VIVA Bali

Lombok Timur, VIVA Bali –Hujan deras yang hanya berlangsung sekitar dua jam di Kecamatan Sembalun, Lombok Timur, memunculkan fenomena tak biasa: air terjun dadakan tampak mengalir deras dari berbagai perbukitan pada Selasa Senin 8 Desember 2025.

img_title Dugaan Penipuan Dapur MBG di Lombok Timur, Kerugian Capai Ratusan Juta

Kejadian ini viral di media sosial dan menimbulkan kekhawatiran warga.

Air mengalir begitu deras dari lereng-lereng bukit yang selama ini tidak memiliki jalur sungai. Dalam rekaman video warga, air turun layaknya air terjun alami dan langsung menuju area pemukiman serta lahan pertanian.

img_title Mencekam! Angin Kencang Ngamuk di Lombok Timur, Atap Rumah Warga Terbang Terhempas

Ketua Komunitas Pemerhati Lingkungan Hidup (KPLH) Sembapala Sembalun, Rijalul Fikri, mengakui fenomena yang disebut warga sebagai “gunung menangis” itu membuat penduduk panik. Trauma banjir bandang beberapa tahun lalu masih membekas.

“Kita panik lah kalau begini. Ada trauma masa lalu, waktu banjir besar sampai menelan korban jiwa dan merusak rumah serta persawahan,” ujar Rijal. Selasa 9.Desember 2025.

img_title Amukan Angin Kencang di Suela Rusak Atap Rumah Warga hingga Pagar RSUD Selaparang

Fenomena ini sebenarnya pernah terjadi sebelumnya, namun kali ini intensitasnya dinilai lebih besar. “Ini tumben sebesar dan sederas kemarin. Makanya ramai disebut gunung menangis, karena tiba-tiba air mengalir deras dari bukit,” jelasnya.

Sawah Terdampak, Warga Cemas

Air yang datang dari perbukitan langsung memperbesar debit sungai, menyebabkan sebagian persawahan terendam. Menurut Rijal, setidaknya tiga hektare lahan hortikultura milik petani terdampak. Meski belum ada rumah yang terendam, warga tetap waspada.

“Kalau hujannya cuma dua jam sudah begini, kita nggak bisa bayangkan kalau seharian,” katanya.

Diduga Akibat Alih Fungsi Lahan

Rijal menilai fenomena ini bukan sekadar akibat curah hujan tinggi. Ia menduga maraknya alih fungsi lahan untuk perkebunan dan pembangunan vila turut memperparah limpasan air.

“Faktor utamanya intensitas hujan tinggi dan alih fungsi lahan, baik untuk perkebunan maupun pembangunan vila,” tegasnya.

Warga berharap pemerintah memperketat pengelolaan tata ruang agar bencana tidak kembali menghantui kawasan wisata tersebut.