ECPAT Kerjasama FAD Bali Kampanye Perlindungan Anak

ECPAT Kolaborasi dengan FAD
Sumber :
  • https://bali.antaranews.com/berita/390313/ecpat-kolaborasi-fad-bali-kampanye-kreatif-perlindungan-anak

Denpasar, VIVA Bali –End Child Prostitution in Asian Tourism (ECPAT) mengadakan Kampanye Perlindungan Anak dengan bekerja sama dengan Forum Anak Daerah (FAD) Bali pada Senin, 29 September 2025.

img_title Pemprov NTB Telusuri Jejak Warisan Budaya yang Tersimpan di Australia

Menurut Koordinator ECPAT Nasional Indonesia, Andy Ardian, mengatakan pihaknya ingin mengangkat pandangan suara anak .

“Andy Ardian, Koordinator Nasional ECPAT Indonesia, menekankan tujuan mereka untuk mendengar suara anak. Oleh karena itu, dalam acara tersebut ditampilkan booth pameran yang berisi pandangan langsung anak-anak mengenai masalah anak yang bekerja, khususnya di bidang pariwisata,” ujar Andy.

img_title Dua Desa di Kabupaten Gianyar Lolos 16 Besar Desa Transparan KIP Bali 2026

Andy menegaskan bahwa kampanye kreatif untuk melindungi anak dari eksploitasi, terutama di sektor pariwisata, merupakan hal yang sangat penting dan mendesak. Hal ini disebabkan oleh tingginya kerentanan anak terhadap dampak negatif industri pariwisata, seperti keterlibatan mereka sebagai pekerja anak serta eksploitasi seksual dan ekonomi.

Meskipun telah ada komitmen dari berbagai pihak untuk mengakhiri pekerja anak di sektor ini, ia menyatakan bahwa gerakan sosialisasi masih sangat diperlukan untuk menekan angka kejadiannya.

img_title Indosat: Bali Jadi Barometer Adopsi 5G, Pengguna Turis Tumbuh Double Digit

ECPAT Indonesia menargetkan penurunan jumlah korban, dengan tujuan akhir menghilangkan sama sekali (zero) kasus pekerja anak serta eksploitasi seksual dan ekonomi terhadap anak di Bali.

Hal ini penting sebab banyak pekerja anak di Bali yang terlibat dalam sektor yang cukup rentan terhadap ekslopitasi diantaranya di bidang keramahtamahan, dan di bidang turisme yang rentan eksploitasi.

“Kita ingin mendorong lebih jauh dari dunia pariwisata untuk dapat terus mendorong Upaya perlindungan anak bukan hanya dari sektor formal, tapi sektor informal,” ucap Andy.

Berbagai pemangku kepentingan pariwisata Bali, termasuk asosiasi, pelaku usaha, pekerja, dan instansi pemerintah, juga mendapatkan edukasi mengenai isu perlindungan anak dalam kesempatan itu.

“Masih banyak tempat penyedia akomodasi yang belum memiliki kebijakan memadai dalam upaya perlindungan anak," ujarnya.

Harapannya, seluruh pelaku sektor pariwisata Bali, baik formal maupun informal, dapat menyusun langkah strategis bersama untuk mencegah potensi eksploitasi anak, termasuk di dunia digital. Hal ini dirasa mendesak mengingat maraknya platform dan usaha jasa wisata berbasis sharing economy, seperti transportasi online. Untuk itu, kebijakan layanan yang mengatur perlindungan dari kekerasan seksual dan bentuk eksploitasi anak lainnya diharapkan dapat menjadi pedoman baku bagi penyedia aplikasi dan para pengemudi.