Penanaman Mangrove di Bima Diminta Berlanjut, Jaga Pesisir
- https://img.antaranews.com/cache/1200x800/2026/10/02/1001992129.jpg.webp
Kota Bima, VIVA Bali –Pemerintah Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, mendorong kegiatan penanaman mangrove di kawasan pesisir dilakukan secara berkelanjutan. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga ekosistem pesisir sekaligus memperkuat upaya perlindungan lingkungan di wilayah Kota Bima.
Dikutip dari mataram.antaranews.com, Wakil Wali Kota Bima Feri Sofyan menyampaikan harapan agar kegiatan penghijauan pesisir tidak berhenti pada kegiatan penanaman semata. Menurutnya, keberlanjutan program dan pemeliharaan tanaman menjadi bagian penting agar manfaat mangrove dapat dirasakan dalam jangka panjang.
"Harapan kita gerakan ini terus berlanjut dan menjadi tradisi serta budaya masyarakat," kata Feri saat memimpin kegiatan penanaman mangrove di kawasan Pantai Lawata, Kota Bima, Jumat 2 Oktober 2026.
Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 600 bibit mangrove ditanam di dua kawasan, yakni Pantai Lawata dan wilayah Ni'u bagian barat. Program ini dilaksanakan Pemerintah Kota Bima melalui Dinas Lingkungan Hidup bersama National Urban Flood Resilience Project (NUFReP).
Feri menekankan bahwa setelah bibit ditanam, diperlukan pemeliharaan dan pengawasan secara konsisten. Hal itu diperlukan agar tanaman dapat tumbuh dengan baik dan memberikan fungsi ekologis bagi kawasan pesisir.
Penanaman mangrove tersebut juga berkaitan dengan upaya Pemerintah Kota Bima memperkuat ketahanan wilayah terhadap berbagai risiko lingkungan. Kawasan pesisir yang berada di sekitar Teluk Bima memiliki dinamika perubahan garis pantai yang dipengaruhi kondisi alam maupun aktivitas manusia.
Selain perlindungan kawasan pesisir, pemerintah daerah juga tengah menjalankan sejumlah langkah untuk mengurangi risiko banjir. Dikutip dari mataram.antaranews.com, banjir bandang pada November 2025 berdampak terhadap 299 kepala keluarga atau 993 jiwa di Kecamatan Rasanae Barat dan Rasanae Timur.
Penanganan risiko banjir dilakukan melalui pendekatan dari kawasan hulu hingga hilir. Salah satu program yang berkaitan dengan upaya tersebut adalah NUFReP yang mendukung pembangunan infrastruktur drainase primer perkotaan.
Pemerintah Kota Bima juga membangun Kolam Retensi Amahami di kawasan hilir. Fasilitas tersebut digunakan untuk menampung limpasan air sebelum dialirkan secara bertahap. Selain itu, penanganan daerah aliran sungai atau DAS Padolo dan Melayu serta penyusunan rencana aksi DAS Rontu turut menjadi bagian dari upaya memperkuat pengelolaan kawasan hulu dan hilir.