Ternyata, Bom Atom Punya Andil Membentuk Budaya Populer Jepang
- https://www.japantimes.co.jp/culture/2021/11/26/books/godzilla-behind-the-kaiju-curtain/
Manga Barefoot Gen Ilustrasikan Pengeboman di Hiroshima
Keiji Nakazawa merupakan seorang penulis manga. Ledakan bom atom di Hiroshima merenggut nyawa ayah, saudara perempuan, dan saudara laki-lakinya.
Awalnya ia tidak berniat menulis manga hingga ibunya meninggal dunia.
“Bom atom itu merenggut sumsum tulangnya,” kata Nakazawa.
Ia pun mulai menggambarkan pengeboman atom dalam manga berjudul Hadashi no Gen (Barefoot Gen).
Peristiwa memilukan itu terekam jelas di benak Nakazawa. Saat bom atom dijatuhkan pada 6 Agustus 1945, pukul 08.15, ia masih menjadi siswa kelas satu SD. Sebagian besar keluarganya tewas dalam peristiwa itu.
Nakazawa datang ke Tokyo pada usia 22 tahun. Ia memiliki impian untuk menjadi seniman manga, terinspirasi oleh Osamu Tezuka yang merupakan pencipta Astro Boy. Tezuka juga dianggap sebagai dewa manga.
Karya perdana Nakazawa menampilkan seorang mata-mata industri. Ia percaya bahwa kartun haruslah menghibur.
Keyakinannya itu berubah ketika ia kembali ke Hiroshima pada tahun 1966 setelah menerima telegram tentang kematian ibunya.
Dalam perjalanan kereta kembali ke Tokyo, ia bertekad untuk menghadapi bom atom secara langsung sebagai seorang kartunis.
Setelah itu, Nakazawa menunjukkan kepada istrinya beberapa panel manga pertamanya, yang isinya tentang bom atom.
Judul manga tersebut Kuroi Ame ni Utarete (Terkena Hujan Hitam).
Karya pendek tersebut menceritakan seorang pemuda yang hendak meninggal karena penyakit bom atom dan berusaha membunuh seorang Amerika yang kejam untuk membalas dendam.