Merawat Kearifan Permainan Tradisional Sarolangun

Bahagia anak dengan meriam bambu hingga Dam
Sumber :
  • https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/4/4f/Bunggo.jpg

Budaya, VIVA Bali – Permainan tradisional adalah salah satu bentuk kearifan lokal (Local Wisdom) yang menjadi aset penting kebudayaan Indonesia, diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satu daerah yang memiliki kekayaan permainan tradisional khas adalah Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi.

img_title Pemprov NTB Telusuri Jejak Warisan Budaya yang Tersimpan di Australia

Artikel berjudul "Analisis Permainan Tradisional Daerah Kabupaten Sarolangun"  pun ditulis oleh Sri Wiliah Ningtiasih dari Universitas Jambi, Jambi, Indonesia. Peneliti menekankan catatan dengan deskripsi kalimat yang rinci dan mendalam untuk menggambarkan situasi yang sebenarnya.

Dimulai dengan mewawancarai informan awal dan kemudian merekomendasikan informan tambahan, seperti tokoh adat, tokoh masyarakat, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sarolangun, serta guru sekolah dasar. Tujuannya untuk mengetahui jenis permainan, makna, dan manfaatnya.

img_title Sistem Adat dalam Teknik Menenun Tradisional di Sulawesi Selatan

Temuan dan Kekhasan Permainan Sarolangun

Berdasarkan wawancara dengan Ketua Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta tokoh adat setempat, ditemukan beberapa permainan tradisional di Sarolangun yang umum di Jambi namun dengan penamaan atau aturan yang sedikit berbeda.

img_title Sistem Hukum Adat dalam Tradisi Nondoi Suku Paser

Meriam bambu, mainan yang terinspirasi dari meriam Portugis ini dimainkan saat bulan Ramadhan atau menjelang Idul Fitri sebagai ungkapan kegembiraan, dengan bunyi letusan yang memeriahkan suasana.

Alatnya terbuat dari bambu besar dan dimainkan dengan menyulut lubang di pangkalnya menggunakan api, dengan bahan bakar minyak tanah atau air karbit. Permainan ini melatih anak mengelola emosi agar tetap tenang dan sabar karena "jika ingin suara bedil bambu lebih besar maka anak harus lebih lama dalam memanaskan badan bedil babunya".

Kemudian ada Bedil Bambu. Permainan ini dibuat dari buluh atau bambu kecil (buluh aur atau bambu pipit) dan menggunakan kertas basah atau biji-bijian sebagai peluru, didorong dengan bilah penyodok yang disebut antan-antan. Permainan ini berkembang menjadi permainan perang-perangan secara berkelompok, yang menekankan kerja sama, ketelitian, dan kelincahan.

Selanjutnya ada permainan Daro yang menggunakan sayak (tempurung kelapa). Permainan yang merupakan tradisi di Sarolangun dan Merangin, yang dimainkan saat acara adat seperti perkawinan atau menugal padi.

Sayak diletakkan di antara kedua tumit, dan pembidik menendang sayak ke arah sayak pemasang dari jarak tertentu (5-7 meter), di mana tim yang kalah harus menggendong pemenang. Permainan ini mengajarkan sikap tenang dan hati-hati serta meningkatkan kefokusan pemain dan kemampuan berpikir dalam menentukan kekuatan tendangan.

Halaman Selanjutnya
img_title