Candi Borobudur: Antara Arsitektur Mandala dan Mitos Kunto Bima
- Anton Heri Laksana/ VIVA Bali
Mistis, VIVA Bali –Candi Borobudur yang terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, merupakan mahakarya arsitektur dunia peninggalan Dinasti Syailendra yang dibangun sekitar abad ke-8 Masehi. Berdasarkan catatan sejarah dan penelitian arkeologi, monumen agung ini dirancang sebagai sebuah representasi kosmologi Buddha dan mandala raksasa yang melambangkan alam semesta serta perjalanan spiritual manusia menuju pencerahan.
Sejarah Asal-Usul dan Struktur Mandala Raksasa
Pembangunan candi megah ini diprakarsai oleh raja-raja dari Dinasti Syailendra antara tahun 750 hingga 840 Masehi. Secara arsitektural, Borobudur bukan sekadar tumpukan batu andesit, melainkan sebuah mandala raksasa tiga dimensional yang merefleksikan alam semesta dalam ajaran Buddha. Struktur bangunan terbagi menjadi tiga tingkat utama kosmologi, yakni Kamadhatu (ranah hawa nafsu), Rupadhatu (ranah wujud), hingga Arupadhatu (ranah tanpa wujud) yang dimahkotai oleh stupa utama.
Keyakinan Masyarakat Sekitar dan Mitos Kunto Bima
Seiring berjalannya waktu, keberadaan candi ini melahirkan berbagai keyakinan serta cerita rakyat di kalangan masyarakat lokal. Salah satu cerita paling populer yang melekat di tengah wisatawan dan warga adalah mitos Kunto Bima. Mitos ini menyebutkan bahwa siapa saja yang berhasil menyentuh bagian tubuh arca Buddha tertentu (dipercaya sebagai arca Bima atau pengikutnya) di dalam stupa berongga, maka segala keinginan atau permintaannya akan terkabul. Kendati demikian, pihak pengelola dan para ahli purbakala secara tegas melarang tindakan merogoh stupa ini demi menjaga kelestarian struktur batu candi agar tidak mengalami keausan atau kerusakan fisik.
Tradisi Masyarakat Lokal dan Bukti Nyata yang Bertahan
Hingga saat ini, masyarakat sekitar lereng Gunung Merapi dan Merbabu masih merawat tradisi kebudayaan yang berdampingan dengan situs ini. Perayaan hari besar keagamaan seperti Waisak nasional dipusatkan di sini, melibatkan biksu serta umat Buddha dari berbagai penjuru dunia. Bukti nyata kebesaran peradaban masa lalu yang masih dapat disaksikan hingga kini mencakup 2.672 panel relief naratif yang membentang di dinding lorong candi serta 504 arca Buddha otentik yang berdiri kokoh menembus zaman, menjadikan Borobudur sebagai simbol keharmonisan sejarah dan mahakarya budaya global.