Suasana Khidmat dan Meriah Warnai Tradisi Nyongkolan di Desa Kediri, Lombok Barat
- Moh Helmi/ VIVA Bali
Lombok Barat, VIVA Bali –Pada Hari Jumat sore kemarin,Suasana di Desa Kediri, Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat, dipenuhi dengan nuansa khidmat sekaligus meriah. Tradisi nyongkolan, sebuah prosesi adat pernikahan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat Lombok, kembali digelar dengan penuh semangat dan kekhidmatan.Jumat, 2 Mei 2025
Acara yang dimulai pukul 16.30 WITA ini menunjukkan betapa kuatnya nilai-nilai budaya lokal yang terus dijaga dan dilestarikan. Rombongan pengantin dan keluarga, diiringi oleh alunan musik tradisional Gendang Beleq yang khas dan menggelegar, bergerak dari depan Pondok Pesantren Islahudin menuju Pasar Kediri.
Iringan musik yang enerjik dan penuh semangat ini menambah kemeriahan dan keindahan prosesi nyongkolan, yang menjadi simbol kebahagiaan dan kebersamaan dalam menyambut pengantin baru.
Kemeriahan acara ini tidak hanya menarik perhatian warga desa, tetapi juga pengguna jalan yang melintas di sekitar jalur tersebut. Potensi kemacetan lalu lintas menjadi perhatian utama pihak kepolisian.
Untuk memastikan acara berlangsung aman dan tertib, jajaran Kepolisian Sektor Kediri, Polres Lombok Barat, serta Polda NTB, secara langsung melakukan pengamanan di lokasi.
Kapolres Lombok Barat, AKBP Yasmara Harahap, S.I.K., melalui Kapolsek Kediri, AKP Jahyadi Sibawaih, S.H., menyatakan bahwa pengamanan kegiatan nyongkolan merupakan bentuk komitmen Polri dalam melayani dan melindungi masyarakat serta mendukung pelestarian budaya lokal.
“Kami menerjunkan anggota, termasuk Bhabinkamtibmas Desa Kediri, untuk melakukan pengamanan secara langsung,” ujarnya.
Fokus utama dari pengamanan ini adalah mengatur arus lalu lintas agar tidak terjadi kemacetan yang mengganggu aktivitas masyarakat lainnya. Sistem buka tutup jalan secara situasional diterapkan untuk memberi ruang bagi rombongan nyongkolan melintas dengan lancar.
Selain itu, petugas juga berupaya mencegah potensi gesekan antar peserta iring-iringan maupun dengan pengendara lain yang melintas.
AKP Jahyadi menambahkan, pihaknya juga memberikan imbauan kepada seluruh pihak untuk menjaga ketertiban dan saling menghormati. Berkat kesigapan anggota di lapangan dan kesadaran masyarakat, seluruh rangkaian acara nyongkolan berjalan aman, kondusif, dan lancar hingga selesai.
Kehadiran aparat kepolisian ini mendapatkan apresiasi dari masyarakat Desa Kediri. Mereka merasa lebih tenang dan nyaman karena keberadaan petugas memberikan rasa aman selama acara berlangsung. Seorang tokoh masyarakat desa yang enggan disebutkan namanya menyampaikan,
“Kami sangat berterima kasih kepada Bapak Polisi yang telah membantu mengamankan acara nyongkolan ini. Dengan pengaturan lalu lintas yang baik, iring-iringan berjalan lancar dan tidak mengganggu aktivitas warga lainnya. Ini menunjukkan sinergi yang baik antara Polri dan masyarakat dalam menjaga tradisi dan ketertiban.”
Tradisi nyongkolan sendiri merupakan bagian penting dari upacara pernikahan adat Sasak di Lombok. Prosesi ini menjadi simbol kebahagiaan dan kebersamaan keluarga serta masyarakat dalam menyambut pengantin baru. Iring-iringan yang meriah dengan musik Gendang Beleq tidak hanya memeriahkan suasana, tetapi juga menjadi warisan budaya yang patut dilestarikan.