Legenda Gunung Semeru dan Kisah Paku Bumi
- https://nagantour.com/gunung-semeru/
Wisata, VIVA Bali –Terus mengalami erupsi selama beberapa hari terakhir, Gunung Semeru bukan sekadar bentang alam tertinggi di Pulau Jawa. Bagi masyarakat Jawa dan para pendaki yang pernah menjejakkan kaki di puncaknya, Semeru atau puncaknya yang dikenal dengan Mahameru memiliki aura magis yang tak terbantahkan. Berdiri gagah setinggi 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl), gunung yang terletak di perbatasan Kabupaten Malang dan Lumajang ini menyimpan kisah mitologi kuno yang dipercaya sebagai asal-usul terciptanya kestabilan di tanah Jawa.
Sejarah Ditempatkannya Gunung Semeru
Berdasarkan naskah kuno Tantu Pagelaran, sebuah manuskrip Jawa Kuno dari masa Majapahit, dikisahkan bahwa pada zaman dahulu kala, Pulau Jawa tidaklah seperti yang kita kenal sekarang. Pulau ini konon terombang-ambing di tengah lautan luas, bergerak tak tentu arah. Tidak ada kestabilan dan pulau ini belum bisa dihuni manusia maupun makhluk hidup lainnya dengan tenang.
Melihat kondisi Pulau Jawa yang labil tersebut, para Dewa di Kahyangan, dipimpin oleh Batara Guru, memutuskan untuk memakunya agar berhenti bergerak. Mereka berencana memindahkan sebuah gunung suci dari tanah Jambudwipa (India), yaitu Gunung Meru untuk diletakkan di atas Pulau Jawa sebagai pemberat atau paku bumi.
Misi pemindahan gunung raksasa ini bukanlah pekerjaan mudah. Batara Guru mengutus Dewa Wisnu dan Dewa Brahma untuk melaksanakannya. Menurut legenda, Dewa Wisnu menjelma menjadi seekor kura-kura raksasa yang menopang dasar gunung di punggungnya. Sementara Dewa Brahma mengubah dirinya menjadi ular naga raksasa yang melilit tubuh gunung dan kura-kura tersebut agar tidak terjatuh selama perjalanan menyeberangi lautan menuju Jawa.
Setibanya di Pulau Jawa, para dewa pertama kali meletakkan gunung tersebut di bagian barat pulau. Namun, karena bobot Gunung Meru yang luar biasa berat, ujung timur Pulau Jawa justru terangkat ke atas alias menjungkat. Menyadari ketidakseimbangan ini, para dewa kemudian memutuskan untuk memindahkan gunung tersebut ke arah timur.
Dalam perjalanan memindahkan gunung dari barat ke timur inilah terjadi peristiwa yang dipercaya membentuk topografi pegunungan di Jawa. Bagian-bagian bawah Gunung Meru yang rapuh rontok dan tercecer di sepanjang jalan. Rontokan batu dan tanah tersebut kemudian tumbuh menjadi gunung-gunung lain yang kini memagari Pulau Jawa, mulai dari Gunung Lawu, Gunung Wilis, Gunung Kelud, Gunung Kawi, Gunung Arjuno, hingga Gunung Kemukus.