Pesona Bentangan Dinding Raksasa di Lembah Harau
- https://www.indonesia.travel/fr/en/explore-indonesia/sumatra/west-sumatra/lembah-harau
Selain keindahan panoramanya, Lembah Harau memiliki fungsi penting sebagai kawasan konservasi. Tempat ini telah ditetapkan sebagai Cagar Alam dan Suaka Margasatwa seluas 270,5 hektare sejak tahun 1993. Di dalam kawasan konservasi ini, terdapat berbagai spesies tanaman hutan hujan tropis dataran tinggi yang dilindungi, serta sejumlah satwa langka asli Sumatra. Hewan yang paling sering terlihat dan menjadi bagian dari ekosistem ini adalah Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis).
Pesona Air Terjun Akar Berayun
Keindahan Lembah Harau semakin sempurna dengan hadirnya sejumlah air terjun alami, atau yang dikenal masyarakat lokal sebagai sarasah, yang mengalir dari tebing-tebing tinggi. Terdapat setidaknya tujuh air terjun ikonik yang tersebar, termasuk di Resort Aka Barayun dan Sarasah Bunta. Salah satu yang paling terkenal adalah Air Terjun Akar Berayun yang menjulang setinggi sekitar 200 meter dan memiliki kolam alami yang sering digunakan wisatawan untuk berendam atau bermain air. Air terjun ini juga terkenal karena bias warna pelangi yang muncul saat musim kemarau. Air terjun lain seperti Sarasah Bunta dikenal karena airnya yang berunta-unta indah, sementara Sarasah Murai mendapatkan namanya dari kisah burung murai yang sering singgah.
Selain menikmati keindahan alam dari bawah, Lembah Harau menawarkan pengalaman trekking yang menantang, dengan jalan setapak menanjak di sisi tebing yang dapat ditempuh sekitar 1 hingga 1,5 jam. Jalur ini bahkan terhubung dengan kawasan jalan layang Kelok 9 yang terkenal. Bagi wisatawan yang mencari hiburan santai, Lembah Harau kini dilengkapi dengan beragam atraksi modern seperti Harau Sky (dilengkapi waterpark dan restoran), serta taman-taman tematik seperti Kampung Eropa dan Kampung Korea Jepang.
Warisan Sejarah dan Mitologi
Di balik pesona alamnya, Lembah Harau juga kaya akan warisan sejarah dan mitologi. Nama "Harau" sendiri dipercaya berasal dari kata parau (suara serak). Kisah ini terkait dengan legenda masyarakat setempat di masa lalu yang kerap berteriak histeris hingga suaranya serak akibat panik saat terjadi banjir atau longsor. Bukti sejarah kuno kawasan ini sebagai tujuan wisata sejak tahun 1926 adalah adanya monumen peninggalan Belanda yang masih berdiri di dekat Air Terjun Sarasah Bunta.