Benarkah Laki-laki Tidak Bercerita?

Ilustrasi dua orang laki-laki
Sumber :
  • https://unsplash.com/id/foto/beberapa-orang-duduk-di-puncak-gunung-uLotE82Zy28

Lifestyle, VIVA Bali – Ramai di media sosial tren laki-laki tidak bercerita. Ungkapan seperti “Cowok kok nangis?” atau “Laki-laki harus kuat!” juga sering kita dengar. Sejak kecil, banyak anak laki-laki sudah dibiasakan untuk menyembunyikan perasaan. Seolah-olah, menangis atau bercerita tentang masalah pribadi adalah tanda kelemahan.

img_title Kamera Film hingga Barang Lawas Kembali Dilirik, Gen Z Ternyata Kangen Hidup Tanpa Serba Instan

Kenapa Laki-Laki Jarang Bercerita?

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa faktor yang membentuk kebiasaan ini.

img_title Bukan Cuma Bikin Sehat, Kenapa Gym dan Padel Jadi Tempat Nongkrong Baru Gen Z?

1. Pola asuh keluarga. Anak laki-laki sering diajarkan untuk kuat dan tidak mengeluh. Menangis sering dianggap memalukan, padahal itu adalah reaksi manusiawi.

2. Lingkungan pertemanan. Meski punya sahabat dekat, banyak laki-laki tetap selektif memilih kepada siapa mereka bisa terbuka. Takut diledek atau dianggap lemah membuat mereka memilih diam.

img_title Dua Bahan di Dapur Jadi Minuman Sehat, Ini Manfaat Jus Tomat dan Wortel

3. Media sosial. Banyak tren baru yang justru memperkuat stigma bahwa laki-laki tidak boleh bercerita.

Dampak Psikologis

Diam bukan berarti tanpa beban. Justru banyak laki-laki yang akhirnya menekan emosinya sendiri. Beberapa bentuk pelampiasannya seperti,

- Begadang tanpa alasan jelas.

- Merokok atau melarikan diri ke kebiasaan kurang sehat.

- Menyibukkan diri dengan aktivitas tapi tetap merasa kosong.

Jika berlangsung lama, kondisi ini bisa berujung pada stres berat, insomnia, bahkan depresi.

Ruang Aman untuk Laki-Laki

Narasi lelaki tidak bercerita, sebenarnya bukan bawaan lahir, melainkan hasil konstruksi sosial. Kita butuh ruang yang lebih terbuka di keluarga, pertemanan, maupun di media sosial agar laki-laki bisa mengekspresikan emosi tanpa stigma.

Bercerita bukan tanda kelemahan, tapi justru langkah sehat untuk menjaga kesehatan mental. Sama seperti perempuan, laki-laki juga punya hak untuk