Mengenal Toksikologi dan Kegunaannya

Ilustrasi pemeriksaan toksikologi
Sumber :
  • https://www.freepik.com/free-photo/side-view-female-scientists-work-lab_7437147.

Lifestyle, VIVA Bali –Pemeriksaan toksikologi dapat melacak paparan zat berbahaya dalam tubuh akibat makanan, udara, hingga produk sehari-hari yang digunakan. Selain itu, tes ini juga kerap digunakan untuk menyelidiki penyebab kematian seseorang.

Dilansir dari National Institute of Environmental Health Sciences atau NIEHS pemeriksaan toksikologi merupakan serangkaian tes medis yang dilakukan untuk mendeteksi keberadaan serta kadar zat berbahaya di dalam tubuh, seperti obat-obatan, alkohol, maupun racun.

Tes ini biasanya menggunakan sampel darah, urine, air liur, atau rambut. Hasilnya dapat membantu dokter memastikan adanya keracunan, memantau penggunaan zat tertentu, hingga menelusuri penyebab kematian.

Awalnya, toksikologi hanya berfokus pada studi mengenai racun. Namun seiring perkembangan ilmu pengetahuan, bidang ini kini mencakup disiplin yang lebih luas yakni menilai risiko dari berbagai paparan bahan kimia serta mendorong keselamatan manusia, hewan, dan lingkungan.

Oleh karena itu, toksikologi menyediakan informasi penting yang dapat digunakan oleh pembuat kebijakan dan pihak lain untuk mengembangkan program serta kebijakan yang dapat membatasi paparan zat beracun. Kemajuan ini ditujukan untuk membantu mencegah atau mengurangi kemungkinan terjadinya penyakit atau gangguan kesehatan lainnya.

Faktor yang berperan dalam toksikologi

  1. Hubungan dosis respon, toksikolog mempelajari hubungan antara jumlah suatu zat dan efeknya pada organisme. Analisis ini membantu menentukan tingkat paparan atau dosis di mana suatu zat bisa menjadi berbahaya dan menimbulkan risiko kesehatan pada manusia. Semua zat berpotensi menjadi beracun dalam kondisi tertentu atau pada dosis tertentu.
  2. Jalur paparan, yakni memahami bagaimana bahan kimia masuk ke dalam tubuh sangat penting untuk menilai risiko dan mengembangkan langkah keselamatan. Rute paparan meliputi inhalasi atau pernapasan, konsumsi yakni pencernaan, atau kontak langsung dengan kulit.
  3. Faktor kerentanan, perbedaan individu, seperti usia, jenis kelamin, genetika, dan status kesehatan, memengaruhi bagaimana seseorang merespons paparan lingkungan. Hanya karena seseorang terpapar zat berbahaya bukan berarti mereka pasti akan jatuh sakit.
  4. Jendela kritis paparan, pada tahap kehidupan tertentu, seperti kehamilan, masa kanak-kanak awal, dan masa remaja, manusia umumnya lebih sensitif terhadap paparan bahan kimia. Toksikolog biasanya memfokuskan penelitian pada periode kritis ini. Bahkan paparan dosis rendah yang tampak sepele bisa saja menimbulkan efek biologis atau berujung pada gangguan kesehatan jika terjadi selama jendela perkembangan penting, misalnya saat otak dan sistem reproduksi sedang terbentuk.