Candi Jawi, Melihat Kisah Sejarah yang Tak Usang
- https://ontrip.pasuruankab.go.id/places/jawi-temple
Wisata, VIVA Bali –Saat melintasi jalur utama yang menghubungkkan daerah Pandaan-Prigen, kawasan Desa Candiwates, Kabupaten Pasuruan ada Candi Jawi. Corak Hindu-Buddha yang lekat asli peninggalan Kerajaan Singasari dengan latar pergunungan yang masih terawat
Candi Jawi dengan panjang 14,24 meter, lebar 9,55 meter, dan tinggi mencapai 24,5 meter. Candi menjulang tinggi dibandingkan candi-candi lain di Jawa Timur. Berada di kawasan pegunungan turut menambah kesan sakral dan estetis
Pada bagian kaki candi, terdapat relief yang dipahat sangat tipis. Hingga kini, relief tersebut belum dapat dibaca secara utuh karena sebagian telah mengalami kerusakan akibat usia dan faktor alam. Meski demikian, keberadaan relief ini menunjukkan nilai artistik sekaligus makna simbolik yang penting.
Beberapa peneliti meyakini relief di kaki Candi Jawi menggambarkan Pradaksina, yakni ritual mengelilingi bangunan suci searah jarum jam sebagai bentuk penghormatan dalam upacara Dewayadnya. Hal ini menguatkan dugaan bahwa Candi Jawi memiliki fungsi keagamaan yang erat kaitannya dengan pemujaan para dewa.
Pada bagian tubuh candi, terdapat relung-relung yang bagian atasnya dihiasi ornamen Kala, simbol penjaga bangunan suci dalam tradisi Hindu. Selain itu, bingkai berbentuk persegi mendatar yang menghiasi tubuh candi memperlihatkan ciri khas arsitektur Hindu yang kuat.
Bagian atap Candi Jawi memiliki bentuk menyerupai pagoda dengan tiga tingkatan. Menariknya, material yang digunakan pada atap berbeda dengan bagian lainnya. Atap candi sebagian besar tersusun dari batu putih, sementara tubuh dan kaki candi didominasi batu andesit, menciptakan perpaduan material yang unik.
Di dalam tubuh candi terdapat sebuah bilik, yang menurut kitab Kertanegara dahulu berisi arca-arca Siwa. Hal ini mencerminkan ajaran sinkretisme Hindu–Buddha yang berkembang pada masa pemerintahan Raja Kertanegara, raja terakhir Kerajaan Singasari.
Fungsi Candi Jawi masih menjadi perdebatan di kalangan ahli. Sebagian menyatakan candi ini merupakan tempat pendharmaan Raja Kertanegara, sementara pendapat lain menyebutkan bahwa candi ini berfungsi sebagai kuil pemujaan, karena dibangun ketika sang raja masih hidup. Candi Jawi sempat mengalami keruntuhan dan dipugar pada 1938–1941, sebelum akhirnya ditetapkan sebagai cagar budaya yang dilindungi undang-undang