Keraton Sambaliung, Warisan Para Pejuang Kalimantan Timur

Rekam Jejak Perjuangan di Keraton Sambaliung
Sumber :
  • https://khazanahberau.id/cagar-budaya/keraton-sambaliung/

Wisata, VIVA Bali –Kabupaten Berau memiliki bukti sejarah penting dari para pejuang di Kalimantan Timur. Letaknya di tepi Sungai Kelay, bangunan ini menjadi saksi perjalanan panjang Kesultanan Sambaliung yang berdiri sejak 1810. Keraton ini merekam dinamika kekuasaan serta perjuangan rakyat.

img_title Kali Biru Prafi, Surga Air Jernih di Papua Barat

Terbentuknya Kesultanan Sambaliung yang lahir sebagai pecahan dari Kesultanan Berau akibat adu domba Belanda. Pada tahun 1810, kerejaan Berau dipisah menjadi dua kekuasaan yakni Kesultanan Gunung Tabur dan Kesultanan Sambaliung. Nama kerajaan ini juga sempat berganti beberapa kali, mulai dari Tanjung, Batu Putih, hingga Sambaliung pada tahun 1849

Pemimpin pertama yakni Sultan Alimuddin, dikenal sebagai tokoh yang paling berani menentang intervensi Belanda. Dulunya pernah membentuk aliansi para pejuang Bugis, Sulu, dan Makassar untuk membangun benteng pertahanan di Batu Putih. Gerakan ini membuat Belanda gelisah hingga akhirnya menyerang, menawan, dan mengasingkan Sultan Alimuddin ke Makassar pada tahun 1834

img_title Hiu Paus Botubarani: Wisata Bahari yang Mengutamakan Konservasi

Meski pemimpinnya ditawan, perlawanan rakyat Sambaliung tidak padam. Penyerahan wilayah Sambaliung kepada Gunung Tabur oleh Belanda justru memicu kemarahan masyarakat. Tiga tahun kemudian, tepatnya pada 24 Juni 1837, Sultan Alimuddin dipulangkan dan kembali memimpin perjuangan rakyat melawan kolonial.

Setelah Indonesia merdeka, Kesultanan Sambaliung resmi berakhir tahun 1960 ketika wilayahnya digabung dengan Gunung Tabur menjadi Kabupaten Berau. Sultan terakhirnya, Muhammad Aminuddin, kemudian ditunjuk sebagai bupati pertama di Berau. Meskipun sistem kesultanannya berakhir, warisannya tetap melekat kuat dalam sejarah lokal.

img_title Belajar Siklus Air Sambil Bermain di Waterpark

Kini, Keraton Sambaliung berfungsi sebagai museum yang menyimpan ragam peninggalan sejarah. Di dalamnya terdapat prasasti beraksara Bugis, meriam yang pernah digunakan dalam perlawanan terhadap Belanda, hingga koleksi benda pusaka kesultanan. Arsitekturnya tetap mempertahankan nuansa tradisional yang membuatnya menarik bagi wisatawan sejarah.

 

Dengan sumber daya alam yang melimpah, dapat menjaga keberagaman budaya yang terdiri dari suku Berau, Dayak, Bugis, Bajau, hingga Basap. Dengan 13 kampung dan 1 kelurahan, Sambaliung tetap menjadi pusat identitas sejarah Berau. Keraton Sambaliung kini tidak hanya menjadi destinasi wisata budaya, tetapi juga simbol ketahanan dan semangat juang masyarakat setempat.