Mengupas Estetika Rumah Adat Malige Buton
- https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Kesultanan_Buton_-_panoramio.jpg
Wisata, VIVA Bali –Rumah Adat Malige di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, adalah representasi budaya Buton yang kaya dan kompleks, dikenal sebagai peninggalan populer Kesultanan Buton yang masih berdiri hingga saat ini.
Arsitekturnya unik, berupa bangunan panggung dengan empat lantai yang mencerminkan kearifan lokal dalam pemanfaatan ruang dan material. Bangunan ini didirikan oleh Sultan Buton ke-37, La Ode Hamidi, dan memiliki nilai estetika serta kearifan lokal yang tinggi.
Kajian mendalam mengenai estetika arsitektur tradisional Indonesia diwujudkan dalam jurnal berjudul "Kajian Estetika Bentuk Rumah Adat Malige Kota Bau-Bau, Buton Sulawesi Tenggara dengan Menggunakan Teori A. A. M. Djelantik".
Jurnal ini merupakan karya dari Ulhak Marsah M., Muh. I., dan Roslyn, yang berasal dari Program Studi Pendidikan Seni Rupa Universitas Muhammadiyah Makassar. Penelitian ini memanfaatkan teori estetika A. A. M. Djelantik untuk menganalisis nilai-nilai budaya dan arsitektural yang terkandung dalam salah satu warisan Kesultanan Buton tersebut.
Jurnal menjelaskan bahwa, “Kajian estetika rumah adat merupakan salah satu warisan budaya yang dimiliki oleh masyarakat lokal, Yang memberikan pemahaman tentang nilai-nilai estetika rumah adat, Nilai-nilai tersebut dapat dilihat dari aspek-aspek bentuk, tata ruang, dan ornamen (A. A. M. Djelantik)".
Malige memiliki desain arsitektural yang kompleks dan multifungsi. Terbuat dari bahan kayu yang berkualitas tinggi seperti kayu jati dan merbau, pembangunannya luar biasa karena hanya menggunakan kait kayu, tanpa melibatkan pasak dan paku.
Meski begitu, Malige mampu berdiri kokoh di atas tiang-tiang kayu. Bangunan ini ditopang oleh tiang-tiang yang terbuat dari kayu wala, di mana tiang utama disebut tutumbu, yang memiliki makna filosofis "tumbuh terus".
Setiap lantai Malige mencerminkan hierarki sosial dan stratifikasi masyarakat. Lantai pertama berfungsi sebagai ruang penyimpanan dan kandang ternak, sementara lantai kedua menjadi pusat kehidupan keluarga dan ruang tamu. Lantai ketiga dikhususkan untuk kegiatan ritual dan upacara adat, sedangkan lantai teratas (keempat) adalah tempat menyimpan pusaka dan barang berharga.
Atap Malige berbentuk limas dengan empat sisi sama panjang, melambangkan kesempurnaan, keagungan, dan keseimbangan alam semesta. Atap pelana ini memiliki ujung yang menjulang tinggi, yang secara simbolis melambangkan aspirasi dan doa untuk kesejahteraan serta perlindungan dari leluhur.