Jaje Bali, Manis Getir dii Gempuran Oleh-oleh Modern
- https://disbud.bulelengkab.go.id/uploads/konten/27_sejarah-jaje-laklak.jpg
Wisata, VIVA Bali – Langkah kaki setiap wisatawan domestik di Bali biasanya berakhir di satu tempat, yaitu toko oleh-oleh. Di sana, camilan kecil berbentuk bundar dengan custard kuning keemasan bernama Pie Susu selalu menjadi bintang utama. Ia kini seolah menjadi sinonim dari oleh-oleh khas Pulau Dewata, mengalahkan camilan tradisional yang sesungguhnya.
Situasi ini menimbulkan ironi mendalam di tengah kekayaan budaya kuliner Bali. Pie Susu, sebagai produk komersial modern, telah berhasil menggeser posisi Jaje Bali, atau kue-kue tradisional, sebagai duta kuliner. Padahal, jaje adalah manifestasi rasa dan sejarah yang jauh lebih otentik.
Bagi masyarakat Bali, jaje memiliki makna yang jauh melampaui sekadar camilan ringan. Ia adalah bagian tak terpisahkan dari ritual dan upacara keagamaan, yang dikenal dengan istilah Piodalan. Kue-kue ini merefleksikan filosofi hidup dan hubungan harmonis dengan alam.
Sebagian besar Jaje Bali sarat akan nilai budaya, seperti Jaje Bendu, Jaje Bolong (Kaliadrem), dan Jaje Gambir. Bahan-bahan yang digunakan pun sangat lokal dan alami, di antaranya gula aren, tepung beras, serta warna hijau yang didapat dari daun pandan dan daun suji. Kehadiran jaje ini di pasar komersial sayangnya masih sangat terbatas dan sulit ditemukan.
Melihat fenomena ini, para peneliti dari Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti di Jakarta, yaitu Savitri Hendradewi, Mimi Enggriani, dan Diana A Kunaefi M, melakukan sebuah riset. Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal berjudul “Balinese Traditional Snacks Vs Milk Pie Boosting ‘Jaje Bali’ to Be Travelers' Favorite Typical Balinese Souvenirs”.
Kontradiksi ditemukan dari sana. Di mana meski Pie Susu mendominasi pasar oleh-oleh, wisatawan ternyata lebih menyukai rasa dari kue-kue tradisional. Preferensi rasa ini membuktikan bahwa Jaje Bali memiliki daya tarik intrinsik yang kuat, yang sayangnya terhalang faktor non-rasa.
Penelitian tersebut secara gamblang menyoroti keunggulan rasa jaje tradisional. Mereka menyatakan, "pelancong lebih menyukai camilan tradisional sebab lebih enak, renyah, dan sekaligus lembut”. Pengakuan ini menegaskan bahwa dari aspek kuliner, kue-kue tradisional unggul dengan tekstur yang gurih, renyah, dan lembut.