Tiga Dunia dalam Tiga Lantai Museum Rudana Ubud
- https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Inside_RAM.JPG
Wisata, VIVA Bali –Ubud, adalah pusat magnet budaya yang tak pernah kehilangan pesonanya, dan di tengahnya berdiri sebuah institusi yang melestarikan seni sekaligus filosofi hidup, Museum Rudana tepatnya. Museum ini diulas dalam jurnal "Pengelolaan Museum Rudana Sebagai Daya Tarik Wisata Berbasis Kearifan Lokal Di Desa Peliatan Kecamatan Ubud Kabupaten Gianyar"
Tak sekadar tempat memajang karya, melainkan perwujudan konkret dari kearifan lokal Bali. Konsep fundamental yang menjadi DNA pengelolaan museum ini adalah Tri Hita Karana, yakni harmonisasi hubungan antara manusia dengan Tuhan (Parahyangan), manusia dengan sesama (Pawongan), dan manusia dengan alam (Palemahan).
Penelitian yang dilakukan oleh Astrid Krisdayanthi, I Gusti Ketut Indra Pranatha Darma, dan Ni Made Desi Meliana dari Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar ini mengungkap bahwa Museum Rudana lahir dari idealisme visioner sang pendiri, Nyoman Rudana. Beliau memiliki pandangan bahwa seni adalah hal yang universal, sehingga harus berperan aktif dalam menyebarluaskan perdamaian, kemakmuran, serta rasa persaudaraan.
Arsitektur Tiga Tingkat
Keunikan museum ini terletak pada arsitekturnya yang sarat makna budaya, bahkan menjadi salah satu daya tarik utamanya. Bangunan museum didirikan setinggi tiga lantai, yang secara ilmiah mencerminkan tiga konsep kosmologi Bali sekaligus.
Yakni, Tri Angga (tiga bagian tubuh manusia), Tri Mandala (tiga pembagian halaman), dan Tri Loka (tiga tingkatan alam semesta). Para peneliti bahkan menyimpulkan bahwa konsep filosofis ini, jika dikaitkan dengan perkembangan seni rupa, mencerminkan regenerasi seniman itu sendiri "bagaikan rangkaian benang emas yang tak terputus".
Meskipun berjiwa budaya, pengelolaan museum ini mengadopsi kerangka kerja manajemen pariwisata yang sistematis dan modern. Jurnal menjelaskan pengelolaan Museum Rudana yang didasarkan penerapan fungsi-fungsi manajemen, meliputi Planning (Perencanaan), Organizing (Pengorganisasian), Actuating (Penggerakan), dan Controlling (Pengawasan).
Jantung Keberlanjutan
Aspek motivasi juga menjadi kunci keberlangsungan museum. Motivasi kuat dari pendirinya untuk mengaktualisasikan karya seni dan keinginan jangka panjang untuk membangun museum di Bali yang masih sedikit, menjadi dorongan utama.
Di sisi pengawasan (Controlling), pengelola Museum Rudana selalu mengapresiasi masukan maupun pujian dari pengunjung dan staf, yang kemudian masukan tersebut "dijadikan motivasi dalam pengembangan pengelolaan". Pengawasan kolektif ini penting agar museum dapat bertahan sebagai wadah apresiasi seni bagi para seniman.