DNA Budaya Bali di Museum Seni Neka

Eksotis-mistis estetika Museum Neka
Sumber :
  • https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/6/6f/NEKA_Art_Museum.JPG

Wisata, VIVA Bali –Bali, pulau yang selalu kita kenal sebagai destinasi eksotis, menyimpan identitas budaya yang jauh lebih kompleks dari sekadar tari dan pantai. Identitas ini tidak statis, melainkan terus direkonstruksi dan salah satu panggung utamanya adalah Museum Neka di Ubud. Lembaga permanen ini menjadi cermin evolusi seni rupa Bali yang menarik untuk dibedah secara ilmiah.

img_title Sensasi Berpetualang di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung

Hal inilah yang coba diungkap oleh Willy Himawan, Setiawan Sabana, dan A. Rikrik Kusmara, tiga peneliti dari Fakultas Seni Rupa dan Disain, Institut Teknologi Bandung (ITB). Mereka melakukan penelitian mendalam terhadap ratusan lukisan koleksi tetap Museum Neka, yang merupakan salah satu museum dengan tingkat kunjungan wisatawan tertinggi di Pulau Dewata.

Penelitian serius mereka terangkum dalam jurnal "Representasi Identitas Bali Pada Koleksi Tetap Museum Neka". Para peneliti membatasi kajian mereka pada karya seni rupa, khususnya lukisan, karena koleksi Museum Neka memang didominasi oleh lebih dari 300 lukisan.

img_title Keindahan Bawah Laut dan Ekowisata Taman Nasional Kepulauan Seribu

Untuk mendapatkan kesimpulan yang valid, mereka menggunakan metode observasi visual dan analisis konten visual, dilengkapi dengan pendekatan hermeneutik untuk memahami makna di balik seluruh presentasi koleksi. Analisis ini bertujuan melihat bagaimana Museum Neka, melalui kurasi karyanya, turut serta dalam mengonstruksi identitas Balinya.

Desa, Kala, dan Patra

img_title Menjelajah Puncak Tertinggi Sumatra di Taman Nasional Kerinci Seblat

Inti dari temuan ilmiah ini adalah bahwa identitas Bali yang direpresentasikan di Museum Neka adalah sebuah konstruksi yang berawal dari budaya klasik (tradisi) dan kemudian menerima pengaruh budaya asing (Barat) tanpa kehilangan esensi lokal. Ini sejalan dengan konsep filosofis Bali yang terintegrasi dalam koleksi berupa desa (tempat), kala (waktu), dan patra (keadaan).

Museum Neka, yang diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Dr. Daoed Joesoef pada 1982, secara cerdas membagi koleksinya menjadi babak-babak sejarah yang menunjukkan evolusi ini. Hal ini membuktikan bahwa museum bukan sekadar tempat penyimpanan, melainkan lembaga yang aktif membentuk narasi budaya bagi publik.

Sebagaimana yang ditekankan oleh para peneliti dalam jurnal tersebut, mereka menyatakan bahwa "Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk memetakan kecenderungan museum untuk membangun identitas budaya." Museum Neka terlihat memiliki kecenderungan kuat untuk menampilkan Bali dalam bingkai "eksotis-mistis" yang memadukan keagungan masa lalu dengan sentuhan modernitas.

Halaman Selanjutnya
img_title