Tragis, Bocah SD di Ngada NTT Tewas karena Tak Mampu Beli Buku

Ilustrasi korban bunuh diri
Sumber :
  • https://www.istockphoto.com/id/foto/tangan-lurid-gm523287063-51160668

Ngada, VIVA BaliPeristiwa tragis menimpa seorang siswa sekolah dasar berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Bocah tersebut ditemukan meninggal dunia setelah diduga mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli buku dan pena seharga Rp10 ribu. Kejadian ini pun menyita perhatian publik dan memicu keprihatinan berbagai pihak.

img_title Masa Mekar Bunga Sepe dalam Festival Sepe Kota Kupang

Dikutip dari VIVA, Rabu, 4 Februari 2026, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, menilai peristiwa tersebut harus menjadi bahan evaluasi serius bagi pemerintah dan seluruh elemen masyarakat.

“Ini harus menjadi cambuk bagi kita semua. Kewaspadaan, kehati-hatian, dan keterbukaan untuk saling membantu harus diperkuat. Pemerintah juga harus waspada, masyarakat satu dengan yang lain harus bergotong royong,” kata Cak Imin kepada wartawan di kawasan Jakarta Pusat, Selasa, 3 Februari 2026.

img_title Diduga Jadi Korban Perundungan di Sekolah, Siswi SMP Coba Bunuh Diri di Tukad Ngongkong

Cak Imin menyampaikan bahwa pemerintah perlu menelusuri secara menyeluruh akar persoalan yang melatarbelakangi peristiwa tersebut. Ia menyoroti adanya tekanan sosial dan kondisi ekonomi yang dapat memengaruhi kondisi psikologis masyarakat.

“Harus kita cari akar masalahnya. Sejauh mana frustasi sosial itu terjadi di masyarakat, ini harus menjadi perhatian bersama,” ujarnya.

img_title Gua Rangko, Surga Tersembunyi dengan Air Biru Kristal di Labuan Bajo

Ia juga kembali menegaskan pentingnya keterbukaan dan kepedulian sosial agar masyarakat yang mengalami kesulitan tidak merasa sendirian.

“Yang paling penting adalah keterbukaan dan gotong royong. Ini menjadi cambuk bagi kita semua untuk terus waspada dan peduli,” lanjut Cak Imin.

Sementara itu, dikutip dari Antara, bocah SD tersebut diketahui meninggalkan sepucuk surat untuk sang ibu sebelum mengakhiri hidupnya. Dalam surat yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, korban menuliskan pesan perpisahan yang menyentuh.

“Surat buat Mama. Mama, saya pergi dulu. Mama relakan saya pergi. Jangan menangis ya Mama. Tidak perlu Mama menangis dan mencari saya. Selamat tinggal Mama,” tulis korban dalam surat tersebut.

Bocah tersebut diketahui tinggal bersama neneknya di Ngada. Sang ibu, berinisial MGT berusia 47 tahun, merupakan orang tua tunggal yang bekerja sebagai petani sekaligus buruh serabutan untuk menghidupi lima orang anaknya, termasuk korban.

Keterbatasan ekonomi keluarga disebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi korban. Ketidakmampuan membeli perlengkapan sekolah sederhana seperti buku dan pena diduga menjadi beban tersendiri bagi bocah tersebut.

Halaman Selanjutnya
img_title