Penyimpangan Prosedur di Wongsorejo, Kios Resmi Diduga Jual Pupuk di Atas HET

Dugaan penyelewengan pupuk bersubsidi oleh kios penyalur
Sumber :
  • Istimewa

Banyuwangi, VIVA Bali –Kelangkaan pupuk bersubsidi di wilayah Kecamatan Wongsorejo ternyata tidak mudah teratasi karena kondisi serupa selalu terulang setiap tahun saat petani memasuki masa tanam. Sejumlah pihak diduga terlibat sebagai penyebab kelangkaan pupuk bersubsidi. 

img_title Tumin Warga Desa Alasejo, Lansia Terlantar yang Berjuang Melawan Maut Tanpa Keluarga

2 orang sumber eksklusif berhasil ditemukan VIVA News yang dimungkinkan terlibat dalam terjadinya kelangkaan pupuk di Wilayah Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. 

Mereka mampu memperoleh pupuk bersubsidi dari kios resmi tanpa perlu melalui proses administrasi yang seharusnya dilakukan. 

img_title Pesta Gol 3-0 Lawan PSPW Legend Wonorejo, Ababil FC Sidowangi Kuasai Puncak Grup A!

Kedua orang tersebut bisa memenuhi kebutuhan pupuk bersubsidi hanya dengan melalui sambunga telp pada kios tertentu. 

“Saya kalau butuh pupuk (bersubsidi) hanya tinggal telp saja. Tidak butuh waktu lama, pupuk sudah ada di depan rumah saya,” aku Edi seorang warga di Kecamatan Wongsorejo. 

img_title Solidaritas Tanpa Batas: Warga Gotong Royong Perbaiki Jembatan Penghubung Desa Sidowangi & Desa Bajulmati

Pemesanan pupuk bersubsidi tersebut diakui terjadi karena ada unsur saling percaya antara pemesan dengan pemilik kios penyalur pupuk bersubsidi. 

“Kalau tidak kenal atau tidak percaya, tidak mungkin berkenan orang pemilik kiosnya. Pasti disuruh ke kios bawa KTP dan difoto,” ujar Edi saat ditemui VIVA News. 

Mudahnya mendapatkan akses pembelian pupuk bersubsidi tersebut ternyata diimbangi dengan harga selangit dan sangat jauh dari Harga Eceran Tertinggi (HET). 

“Kalau dibandingkan dengan HET, pasti harganya melonjak jauh. Hampir 2 kali lipat tapi jika dibandingkan dengan pupuk NON (subsidi) harganya jauh lebih murah. Makanya banyak yang mau walau harga bukan HET,” tutur Edi dalam pengakuannya. 

Lain halnya dengan Abdul yang mendapatkan pupuk bersubsidi dengan cara yang berbeda bahkan tanpa diperlukan modal awal. 

Abdul bisa melakukan pemesanan dan pengambilan pupuk bersubsidi dari kios penyalur resmi untuk selanjutnya dijual kembali. 

“Kalau ada yang pesan ke saya, langsung saya telp kios. Saya langsung ambil saja ke kios itu. Ambil dulu baru nanti kalau sudah dibayar oleh pemesannya, dibayarkan ke kios,” kata Abdul yang ditemui VIVA News usai mengambil pupuk bersubsidi. 

Ironisnya, Abdul tetap bisa mendapatkan pupuk bersubsidi kendati tidak menjadi anggota kelompok tani bahkan ditengah kelangkaan pupuk bersubsidi jenis phonska di wilayah Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. 

Halaman Selanjutnya
img_title