Kapal Wisata Kerap Karam di Labuan Bajo, DPR Minta KSOP Inspeksi Total
- Antara/KSOP
Jakarta, VIVA Bali – Kapal wisata terus karam di Labuan Bajo, menelan korban jiwa. DPR desak KSOP lakukan inspeksi total semua kapal agar tragedi serupa tidak terulang di NTB.
Rentetan kecelakaan kapal wisata di Labuan Bajo kembali menjadi sorotan nasional.
Anggota Komisi V DPR RI, Mori Hanafi, mendesak Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) untuk melakukan inspeksi total terhadap seluruh kapal komersial dan wisata yang beroperasi di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB).
Desakan tersebut muncul setelah beberapa insiden yang menimbulkan korban jiwa dan menjadi perhatian publik, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Menurut Mori, peringatan cuaca ekstrem dari BMKG sudah diumumkan berhari-hari sebelumnya, termasuk potensi gelombang tinggi dan angin kencang di sejumlah perairan, dalam rilis yang diterima bali.viva.co.id.
“Karena peringatan sudah diberikan jauh hari, tidak boleh ada kelalaian di lapangan. Kelayakan kapal, kesiapan kru, kelengkapan alat keselamatan, hingga kepatuhan terhadap larangan berlayar harus ditegakkan,” tegas Mori. Minggu, 4 Januari 2026.
Legislator dari Fraksi Partai NasDem ini menekankan NTB merupakan destinasi pariwisata kelas dunia, sehingga keselamatan wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, harus menjadi prioritas utama.
“Keindahan destinasi wisata harus diiringi rasa aman. Jangan sampai kejadian serupa Labuan Bajo terjadi di NTB. Negara harus hadir melalui pengawasan yang tegas dan konsisten,” tambahnya.
Mori menegaskan bahwa pengawasan kapal wisata tidak boleh bersifat insidental.
Pemeriksaan harus dilakukan rutin dan menyeluruh, terutama pada periode cuaca ekstrem dan saat aktivitas pariwisata laut meningkat.
Langkah preventif ini dinilai penting untuk mencegah terulangnya kecelakaan serupa, sekaligus menjaga kepercayaan publik dan reputasi NTB sebagai destinasi wisata yang aman, bertanggung jawab, dan berkelas dunia.
Tragedi terbaru menimpa kapal KM Putri Sakinah pada 26 Desember 2025.
Kapal itu mengalami mati mesin sekitar 30 menit setelah berangkat dari Pulau Kalong menuju Pulau Padar, mengakibatkan lima penumpang hilang, termasuk seorang pelatih Valencia CF B Women dan tiga anaknya.
Beberapa hari kemudian, KM Dewi Anjani tenggelam saat berlabuh di Dermaga Pink akibat kemasukan air karena pompa got tidak berfungsi.