Badan Geologi: Sejumlah Kota di Jawa Alami Penurunan Tanah Lebih dari 5 Cm per Tahun

Peta penurunan muka tanah di wilayah Pulau Jawa
Sumber :
  • ANTARA/HO Badan Geologi

Jakarta, VIVA Bali – Badan Geologi mencatat sejumlah kota besar di Pulau Jawa mengalami penurunan muka tanah dengan laju lebih dari lima sentimeter per tahun. Fenomena tersebut tidak hanya terjadi di wilayah pesisir, tetapi juga di dataran tinggi seperti Bandung.

img_title Indonesia Rentan Gempa, Badan Geologi Ungkap Ancaman Nyata di Balik Lempeng Dunia

Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan (PATGTL) Badan Geologi, Agus Cahyono Adi, menyebut Kota Bandung dan kawasan Bandung Raya mengalami penurunan tanah lebih dari lima sentimeter per tahun akibat berbagai faktor. Dilansir dari VIVA, Agus mengatakan faktor tersebut antara lain aktivitas industri yang masif, kondisi tanah lunak dan sedimen muda, urbanisasi, beban bangunan, serta eksploitasi air tanah yang berlebihan.

“Penurunan muka tanah ini multifaktor. Wilayah Bandung terbentuk dari danau purba, sehingga endapan sedimennya relatif lebih labil dibandingkan daerah yang terbentuk dari bekuan lava yang lebih kuat,” kata Agus.

img_title Legenda Selat Bali, Pemisah Pulau Jawa dengan Pulau Bali

Ia menjelaskan, tidak semua faktor penyebab penurunan tanah dapat dikendalikan, khususnya yang berkaitan dengan kondisi geologi. Namun, upaya yang masih bisa dilakukan untuk meminimalkan penurunan tanah adalah dengan mengurangi penggunaan air tanah.

“Faktor alam tidak bisa dikendalikan, yang bisa dikendalikan adalah mengurangi penggunaan air tanah,” ujarnya.

img_title Laptop Murah tapi Ngebut? Ini 10 Rekomendasi Terbaik Tahun 2026

Selain Bandung, daerah lain yang tercatat mengalami penurunan tanah lebih dari lima sentimeter per tahun antara lain Jakarta Utara, Semarang (Genuk, Tanjung Mas, dan Kaligawe), Sayung di Kabupaten Demak, pesisir Pekalongan, serta wilayah timur dan utara Surabaya.

Plt Kepala Badan Geologi, Lana Saria, dalam keterangannya menyebut kondisi geologi berupa sedimen berumur muda dan tanah lunak menjadi faktor utama penurunan tanah. Kondisi tersebut diperparah oleh eksploitasi air tanah, beban bangunan, dan urbanisasi yang masif.

Menurut Lana, ketika penurunan tanah dikombinasikan dengan kenaikan muka air laut akibat pemanasan global, risiko banjir dan rob permanen semakin meningkat. Dampak lainnya meliputi kerusakan infrastruktur, penurunan kualitas lingkungan dan kesehatan, hingga kerugian ekonomi akibat meningkatnya biaya perbaikan bangunan dan hilangnya wilayah daratan.

“Banjir rob meluas di Jakarta Utara, Kabupaten dan Kota Pekalongan, Kota Semarang, dan Kabupaten Demak,” ujar Lana.

Halaman Selanjutnya
img_title