M Nigara Sebut John Herdman 99 Persen Jadi Pelatih Timnas
- TVONE Foto
Jakarta, VIVA Bali – Wartawan senior M Nigara menyebut John Herdman hampir dipastikan menjadi pelatih baru Timnas Indonesia. Ia menyatakan peluang Herdman menukangi skuad Garuda sudah mencapai 99 persen, dengan satu persen tersisa menunggu pengumuman resmi.
M Nigara menilai selama ini pelatih Timnas Indonesia kerap tidak diberi waktu yang cukup untuk berkembang bersama tim. Karena itu, ia mengingatkan PSSI agar tidak tergesa-gesa memecat pelatih jika dalam proses menuju target jangka panjang mengalami kegagalan.
“Target yang jelas itu Piala Dunia 2030. Menuju ke sana boleh gagal, boleh dikritik, tapi prosesnya harus dijaga,” ujar M Nigara dalam program Apa Kabar Indonesia Malam tvOne, Minggu (21/12/2025), dilansir dari TVOne.
Turnamen FIFA Series yang akan digelar pada Maret 2026 disebut akan menjadi debut pelatih Timnas Indonesia yang baru. Namun, M Nigara menegaskan ajang tersebut tidak seharusnya dijadikan tolok ukur utama kualitas pelatih.
“Ada FIFA Series bulan Maret. Tapi menurut saya itu jangan dijadikan ukuran. Pelatih baru butuh waktu. Chemistry belum terbentuk, posisi pemain juga berbeda dengan di klub. Itu tidak bisa instan,” katanya.
M Nigara juga menyoroti latar belakang John Herdman yang tidak pernah berkarier sebagai pemain sepak bola profesional. Menurutnya, hal itu berpotensi memunculkan perdebatan di media sosial, meski rekam jejak kepelatihannya terbilang kuat.
Ia menjelaskan, Herdman memulai karier kepelatihan pada 2006 di Selandia Baru dan sukses membawa tim nasional wanita tampil di Piala Dunia 2007 dan 2011 serta Olimpiade 2008. Setelah itu, Herdman melanjutkan kiprahnya di Kanada sejak 2011 hingga 2022.
“Bersama tim wanita Kanada, dia meraih perunggu Olimpiade Rio 2016 dan menembus perempat final Piala Dunia Wanita 2015. Sementara tim pria Kanada, dia berhasil membawa mereka lolos ke Piala Dunia 2022,” tegas M Nigara.
Setelah resmi diperkenalkan, M Nigara menilai tugas berat menanti Herdman, terutama dalam membangun kebersamaan tim. Menurutnya, keterbatasan waktu berkumpul para pemain menjadi tantangan tersendiri.
“Yang paling penting kebersamaan dan chemistry. Pemain kita jarang bermain bersama, tapi tetap harus ada waktu untuk membangun kebersamaan,” pungkasnya.