Dana 97 Juta Terancam Mubazir, Jembatan di Desa Watukebo Diduga Tak Bisa Dimanfaatkan
- Anton Heri Laksana/ VIVA Bali
Banyuwangi, VIVA Bali –Pembangunan sebuah fasilitas umum biasanya akan menjadi manfaat bagi warga sekitar namun bukan pembangunan yang satu ini. Warga sekitar kini harus berjalan memutar dengan waktu tempuh tambah lebih dari 1 jam karena akses jalan sebelumnya menjadi korban proyek asal-asalan.
Adalah pembangunan sebuah jembatan di Dusun Krajan Maelang, Desa Watukebo, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur yang kini dituding akan merugikan warga sekitar. Selasa, 25 November 2025.
Proses pembangunan sebuah jembatan yang mulai memasuki tahap pengecoran tersebut dianggap merugikan karena menutup akses warga.
Lokasi pembangunan jembatan tersebut merupakan akses jalan untuk lalu lalang warga beraktifitas keluar desa atau pun ke ladang.
“Ya ini yang namanya pembangunan malah merugikan warga. Padahal seharusnya pembangunan itu tidak bisa seenaknya tapi harus bisa dimanfaatkan warga sekitar,” ujar seorang warga, Raibu.
Kekesalan Raibu bukan tanpa alasan, akses jalan yang sebelumnya masih bisa dilalui kendaraan roda dua dan roda empat, kini sudah tidak bisa digunakan kembali.
“Hanya jalan kaki saja yang bisa lewat. Lalu apa gunanya adanya pembangunan jembatan ini? Apakah sebelum membangun tidak dicek langsung dulu ke lapangan?,” tanya Raubi saat dihubungi VIVA News.
Jembatan yang berada di Dusun Krajan Maelang ini merupakan proyek dari Kementerian (Kemen) Pekerjaan Umum (PU) yang ditindak lanjuti oleh Dinas PU Cipta Karya, Perumahan dan Permukiman (DPU CKPP) Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
“Kalau saya dan kami semua yang biasa melalui jalan ini merasa dirugikan karena harus jalan memutar dengan waktu tempuh 1 jam. Kalau sudah hujan bisa lebih lama karena akses jalan licin,” tutur Raibu.
Keluh kesah yang disampaikan Raibu terkait tudingan adanya perbedaan yang cukup mencolok antara desain gambar jembatan yang menjadi panduan dengan hasil pembangunan jembatan yang menelan dana lebih dari 97 juta tersebut.
“Gimana bisa dilintasi jembatannya, lha wong terjadi perbedaan tinggi antara akses jalan umum dengan jalan penghubung ke jembatan. Antara gambar dengan hasil jembatan, beda,” kata Raibu saat ditemui di lokasi proyek.