Jembatan Baru di Desa Watukebo Malah Rusak Akses Warga, Pembangunan Diduga Asal-Asalan
- Anton Heri Laksana/ VIVA Bali
Banyuwangi, VIVA Bali –Dalam pelaksanaan sebuah proyek, para pekerja akan dibekali dengan desain gambar untuk menjadi panduan dalam pelaksanaan pembangunan. Namun bagaimana jika desain gambar panduan sulit diaplikasi di lokasi pembangunan? Hasilnya sudah dapat dipastikan tidak akan maksimal dan justru merugikan banyak pihak.
Sekilas tidak ada yang aneh dalam pengerjaan proyek pembangunan jembatan di Dusun Krajan Maelang, Desa Watukebo, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur ini. Selasa, 25 November 2025.
3 orang pekerja sedang menyiapkan papan penyangga yang akan digunakan sebagai alas untuk dilakukan pengecoran jembatan proyek dari kontraktor pelaksana CV Bumi Perwira.
Namun saat ditelisik lebih dalam, akan terlihat bagian yang sangat menonjol pada bagian kanan kiri atau depan belakang jembatan.
“Letak jembatan berada di tengah celukan sungai dan cukup jauh dari tepi jalan. Jadi antara jembatan dengan akses jalan penghubung terpisah cukup jauh,” ujar warga sekitar, Raibu.
Pekerja proyek menyiapkan tahap pengecoran jembatan
- Anton Heri Laksana/ VIVA Bali
Hal tersebut sebenarnya lumrah saja karena titik yang terpisah itu bisa diisi dengan tanah urukan yang nantinya bisa menjadi penghubung antara akses jalan dengan jembatan.
“Apa mungkin titik yang terpisah itu diisi tanah uruk sedangkan kata pekerja mereka tidak akan membangun plengsengan samping di sekitar jembatan?,” tutur Raibu di lokasi pembangunan jembatan.
Tidak adanya rencana pembangunan plengsengan penahan tanah uruk di sekitar jembatan diduga akibat dana pembangunan telah kosong.
Padahal pembangunan plengsengan penahan tanah uruk di sekitar bangunan jembatan itu sangat penting karena bisa mengantisipasi terjadinya tanah longsor karena lokasinya berada di jalur banjir terutama saat musim hujan.
“Kata pekerjanya sih anggaran sudah habis. Makanya tidak ada arahan untuk membangun plengsengan penahan tanah uruk di sekitar jembatan,” kata Raibu pada VIVA News.
Papan informasi pelaksanaan proyek jembatan di Maelang
- Anton Heri Laksana/ VIVA Bali
Tidak adanya pembangunan plengsengan tersebut memunculkan tanda tanya terkait ada tidaknya tahapan pengurukan tanah di sekitar jembatan yang baru dibangun tersebut.
“Jika tidak ada pengurukan tanah dan kondisinya tetap seperti ini, keberadaan jembatan ini sangat merugikan warga karena merusak akses jalan karena jembatan tidak bisa digunakan. Posisinya di tengah curah,” geram Raibu.