Reputasi Kakao Premium Bali Terancam Menurun jika Peremajaan Tidak Dipercepat

Terlihat pemaparan materi mengenai
Sumber :
  • https://bali.antaranews.com/berita/393785/pemprov-bali-ajukan-peremajaan-tanaman-kakao

Bali, VIVA Bali –Reputasi kakao premium asal Bali yang sudah menembus pasar Eropa hingga Asia kini menghadapi tantangan serius. Produktivitas tanaman kakao di berbagai kabupaten terus merosot akibat usia tanaman yang sudah terlalu tua. Kondisi ini memaksa Pemerintah Provinsi Bali mengajukan program peremajaan untuk memastikan kualitas dan suplai kakao tetap stabil di pasar ekspor.

img_title Menjelajahi Surga Eksotis Nusa Penida, 4 Destinasi Ikonik yang Wajib Masuk Bucket List

Dikutip dari bali.antaranews.com, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali Dewa Ayu Nyoman Budiashih mengatakan jika Pemerintah daerah pun telah mengusulkan bantuan benih baru kepada pemerintah pusat agar kebun kakao di daerah sentra dapat diperbaharui. Upaya itu ditempuh melalui sistem digital e-proposal untuk Kabupaten Jembrana dan Tabanan. “Kami mohon benih ke pusat untuk di Kabupaten Jembrana dan Tabanan, sudah mengajukan melalui e proposal,” katanya di sela diskusi dengan media di Kuta, Kabupaten Badung, Bali, Senin (24/11).

Peremajaan mendesak dilakukan karena sebagian besar tanaman kakao di Bali telah berumur lebih dari 20 tahun dan kondisinya banyak yang rusak. Data provinsi mencatat total lahan kakao mencapai 13.398 hektare pada 2024 dengan rata-rata produksi 461 kilogram per hektare per tahun. Dari angka itu, sedikitnya 2.087 hektare tergolong tanaman tidak menghasilkan. Jembrana menjadi wilayah dengan kerusakan terbesar mencapai 1.114 hektare, disusul Tabanan sekitar 498 hektare.

img_title Gubernur Bali Pede Bali Tetap Dipercaya Dunia: Kemacetan dan Sampah Tak Boleh Diabaikan

Produktivitas yang terus menurun itu dinilai dapat berdampak pada kualitas kakao Bali yang selama ini dikenal premium. Padahal, kakao Bali telah lama memiliki pasar kuat di sejumlah negara seperti Prancis, Belanda, Belgia, Jepang, Australia, hingga Inggris. Jika pasokan bahan baku turun, posisi Bali sebagai produsen kakao berkualitas dapat tergerus oleh daerah lain.

Budiashih menjelaskan bahwa hanya sebagian wilayah yang masih menunjukkan produktivitas lebih baik. “Hasil produktifitas di Bali rata rata masih rendah, di bawah 500 kilogram per hektare per tahun kecuali Jembrana yang 687 kilogram karena kebanyakan (tanaman) sudah tua diatas 20 tahun,” ucapnya.

img_title BPJS Kesehatan Ajak Peserta Manfaatkan Berbagai Kemudahan Aplikasi JKN

Selain peremajaan, Bali juga memiliki peluang pengembangan kebun baru sekitar 2.417 hektare, terutama di Jembrana dan Tabanan. Pemerintah berharap langkah ini mampu menjaga kesinambungan kakao premium Bali serta memperkuat daya saingnya di pasar global.