Batu Copot dan Semen Tak Menempel, Dugaan Bukti Proyek Plengsengan Digarap Asal Jadi Menguat

Lokasi plengsengan yang dikeluhkan petani
Sumber :
  • Venus Hadi/ VIVA Bali

Banyuwangi, VIVA Bali –Proyek pengerjaan plengsengan dikeluhkan petani karena dianggap dikerjakan secara asal-asalan. Beberapa bagian dari pengerjaan proyek tersebut mudah rontok dan beberapa batu pada plengesengan copot dari tempatnya. 

img_title Nasib Malang Pedagang Nasi Goreng Harjono, Korban Pencurian di Areal Pasar Wongsorejo

Inilah kondisi plengsengan di areal persawahan Dusun Galekan, Desa Bajulmati, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Minggu, 23 November 2025. 

Lokasi plengsengan yang berada di tepi akses jalan alternatif warga saat menuju areal persawahan tersebut sangat mudah ditemui. 

img_title Bukan Sekadar Baris-berbaris, Ini Prestasi Bergengsi 25 Siswa Anggota Paskibraka Wongsorejo

Di tempat ini dapat terlihat hasil pengerjaan proyek perbaikan plengsengan saluran air yang terkesan dikerjakan asal-asalan. 

Beberapa bagian dari pengerjaan proyek yang sudah selesai pelaksanaannya tersebut terlihat mudah rontok saat mendapatkan beban diatasnya. 

img_title Tumin Warga Desa Alasejo, Lansia Terlantar yang Berjuang Melawan Maut Tanpa Keluarga

“Yang saya tahu proyek ini dikerjakan sebelum terjadinya pengeringan sungai. Kemungkinan sekitar Bulan Agustus atau September,” ujar Ketua Kelompok Tani Bunga Sedap Malam, Marsa’at. 

Saat pelaksanaan proyek nyaris luput dari perhatian warga karena lokasinya yang cukup jauh dari pemukiman warga. 

“Jadi saya menuding saat pelaksanaan proyeknya asal-asalan. Lihat saja ini, kok bisa batu dan adonan semennya tidak bisa nempel gini. Tidak perlu pakar, siapa pun tahu jika seperti ini sudah pasti asal-asalan pengerjaannya,” tutur Marsa’at pada VIVA News. 

Saat dilakukan pengecekan ke lokasi, sejumlah batu memang terlihat rontok dari tempatnya semula seolah adonan semen tidak mampu menempelkannya. 

“Ada beberapa petani yang paham tentang bangunan, kalau kondisi seperti ini katanya kurang campuran semennya,” kata Ketua Poktan di lokasi proyek. 

Kondisi yang lebih memprihatinkan terlihat pada sisi yang berbeda dari lokasi awal terkait hasil dari pelaksanaan proyek. 

Pada lokasi yang berbeda ini, plengsengan yang seharusnya dikerjakan sepanjang lebih dari 100 meter tersebut dibiarkan mangkrak. 

Sejumlah pasangan batu yang sedianya akan diganti dengan plengsengan baru dirusak untuk selanjutnya dilakukan perbaikan namun hingga saat perbaikan tersebut urung dilakukan. 

“Batu lama yang berada di areal plengsengan ini sudah dibongkar oleh pekerjanya waktu itu tapi tidak jadi dilakukan perbaikan. Saya dengar pekerjanya kabur sebelum proyek selesai,” jelas Marsa’at. 

Halaman Selanjutnya
img_title