Bandara Ngurah Rai Tingkatkan Kesiapsiagaan di Tengah Status Awas Gunung Semeru
- https://bali.antaranews.com/berita/393529/bandara-ngurah-rai-belum-ada-dampak-erupsi-semeru-ke-penerbangan
Denpasar, VIVA Bali –Bandara I Gusti Ngurah Rai memastikan operasional penerbangan di Bali masih berjalan normal meskipun Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur, telah dinaikkan ke status level IV atau awas. Meski demikian, pengelola bandara meningkatkan kesiapsiagaan untuk mengantisipasi potensi gangguan lalu lintas udara sewaktu-waktu akibat aktivitas vulkanik.
Dikutip dari bali.antaranews.com, General Manager Bandara I Gusti Ngurah Rai, Ahmad Syaugi Shahab, memantau langsung situasi terminal sejak pagi. Ia memastikan aktivitas penumpang, maskapai, hingga pergerakan pesawat berlangsung lancar tanpa indikasi adanya dampak abu vulkanik. Pemantauan dilakukan terutama di terminal internasional yang memiliki intensitas pergerakan penumpang lebih tinggi.
“Saya di terminal Internasional memantau langsung di lapangan menunjukan bahwa dampak dari erupsi Semeru tidak ada sama sekali di Bandara I Gusti Ngurah Rai, semua penumpang normal dan pesawat juga normal, kegiatan juga normal,” ujarnya, Denpasar, Rabu, 19 November 2025.
Meskipun kondisi masih aman, pengelola bandara tetap mengimbau calon penumpang untuk memperhatikan potensi perubahan cuaca dan risiko dampak erupsi. Masyarakat diminta tiba lebih awal serta memastikan jadwal penerbangan kepada pihak maskapai untuk menghindari hambatan apabila terjadi perubahan mendadak.
“Pengelola bandara menghimbau calon penumpang agar tiba di bandara lebih awal dan melakukan koordinasi dengan maskapai. Kami menghimbau seluruh pengguna jasa untuk tiba di bandara lebih awal dan memastikan jadwal penerbangannya dengan pihak maskapai secara berkala,” kata dia.
Hingga hari ini, Bandara Ngurah Rai masih mengangkut rata-rata 67 ribu penumpang domestik dan internasional. Tidak terdapat pembatalan maupun penundaan penerbangan yang berkaitan dengan erupsi Semeru.
Adapun Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang mengalami erupsi disertai luncuran awan panas sejauh tujuh kilometer. Kolom letusan teramati setinggi 2.000 meter, sementara aktivitas vulkanik dinilai masih tinggi dan tidak stabil oleh Badan Geologi.