Pertalite Langka 3 Hari, Antrean di SPBU Lombok Timur Mengular hingga Badan Jalan
- Amrullah/VIVA Bali
Lombok Timur, VIVA Bali – Antrean kendaraan mengular di sejumlah SPBU di Kabupaten Lombok Timur sejak Minggu 16 November 2025. Kelangkaan BBM jenis Pertalite dan Pertamax yang tak kunjung teratasi membuat pengendara kelimpungan hingga Selasa 18 November 2025 malam. Situasi ini memaksa warga menunggu berjam-jam hanya untuk mengisi beberapa liter bahan bakar.
Di SPBU Masbagik, antrean tampak menjulur hingga keluar area SPBU. Pemandangan itu terlihat jelas saat VIVA Bali, melakukan pemantauan di lokasi. Para pengendara yang membutuhkan BBM tampak tidak punya banyak pilihan selain bersabar.
“Mau bagaimana lagi, nunggu saja,” keluh seorang pengendara yang berharap stok segera normal.
Sejumlah petugas SPBU mengaku tidak mengetahui secara pasti penyebab kelangkaan. Mereka hanya menyebut suplai dari Pertamina datang dalam jumlah terbatas sejak beberapa hari terakhir. Kondisi semakin mengkhawatirkan di SPBU Pancor, Selong. Selama tiga hari terakhir, Pertalite benar-benar habis. Yang tersisa hanya Pertamax, itupun jumlahnya terbatas.
“Belum tahu kenapa stok berkurang,” ujar salah seorang petugas di SPBU Pancor.
Ia memperkirakan kelangkaan ini bisa terkait rencana kenaikan harga, meski hal tersebut belum bisa dipastikan.
Asisten II Setda Lombok Timur, M Khairi, memastikan kelangkaan ini bukan terjadi secara nasional. Ia menyebut keterlambatan distribusi akibat cuaca buruk sebagai penyebab utama macetnya pasokan BBM ke wilayah Lombok Timur.
“Cuaca buruk itu yang menyebabkan pengiriman tersendat. Kalau cuaca sudah normal, distribusi juga ikut normal,” tegasnya, Rabu 19 November 2025.
Meski begitu, Pemkab Lombok Timur tidak tinggal diam. Khairi mengatakan pihaknya sudah menjalin koordinasi dengan Pertamina agar distribusi dipercepat demi mengurai antrean panjang yang mengganggu aktivitas masyarakat.
Dampak kelangkaan juga terasa pada pedagang pengecer yang biasanya menjual BBM di pinggir jalan. Sudah tiga hari mereka tidak mendapat jatah dari SPBU. Situasi diperparah dengan kebijakan SPBU yang menghentikan sementara penjualan menggunakan jeriken.
“Pedagang eceran belum bisa dilayani,” kata seorang pengecer asal Selong yang hanya bisa berharap kondisi segera membaik.