Proyek Kemen PU 22 Miliar untuk Apa? Sedimen Tetap Dikeruk Manual oleh 10 Pekerja Bermodal Cangkul

Pengerukan sedimen sungai secara manual di Desa Bajulmati
Sumber :
  • Anton Heri Laksana/ VIVA Bali

Banyuwangi, VIVA Bali –Proyek rehabilitasi jaringan irigasi daerah irigasi (DI) Bajulmati yang menelan dana lebih dari 22 miliar milik Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU) di Kabupaten Banyuwangi diwarnai pengerjaan proyek dengan menggunakan tenaga manual manusia. 

img_title Nasib Malang Pedagang Nasi Goreng Harjono, Korban Pencurian di Areal Pasar Wongsorejo

Seperti yang terlihat di lokasi pengerukan sedimen sungai DI Bajulmati di Dusun Galekan, Desa Bajulmati, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Sabtu, 15 November 2025. 

Pengerukan secara manual dilakukan di kawasan ini karena merupakan kawasan padat pemukiman yang tidak memiliki akses alat berat. 

img_title Bukan Sekadar Baris-berbaris, Ini Prestasi Bergengsi 25 Siswa Anggota Paskibraka Wongsorejo

Sedikitnya 10 pekerja melakukan pengerukan pada sedimen sungai dengan menggunakan alat cangkul seadanya. 

Warga sekitar bantaran sungai DI Bajulmati melakukan pengumpulan dana secara gotong royong untuk membayar para pekerja tersebut. 

img_title Tumin Warga Desa Alasejo, Lansia Terlantar yang Berjuang Melawan Maut Tanpa Keluarga

“Yang bilang ada pungutan itu siapa? Info darimana itu ada pungutan? Jadi itu bukan pungutan tapi iuran bersama,” ujar Ketua Paguyuban Kegiatan, Dedika. 

Dalam penuturannya, Ketua Paguyuban Dedika berdalih pungutan sebesar Rp 300.000 untuk setiap pemilik stand agar bangunan yang berada di bantaran serta atas sungai tidak ikut ditertibkan akibat tidak ada akses untuk alat berat saat pelaksanaan proyek. 

“Itu kan usaha kita selaku pemilik stand depan pasar, biar selamat. Kalau kita mengikuti proyek, kan proyek pakai alat berat, becho,” tutur Dedika pada VIVA News. 

Penggunaan alat berat saat pengerukan sedimen sungai DI Bajulmati dikawatirkan akan merusak stan usaha mereka karena minimnya akses alat berat di lokasi pengerjaan proyek. 

“Makanya kita mengumpulkan pemilik stand dan membentuk paguyunan serta mengumpulkan iuran untuk membayar pengerjaan secara manual,” kata Dedika yang juga anggota BPD Bajulmati. 

Dedika berharap saat pengerukan di sekitar lokasi usaha mereka dilakukan secara manual sudah tidak diperlukan lagi alat berat becho untuk melakukan pengerukan sedimen. 

“Kita kan cari selamat. Seperti dari utara hingga selatan, kan sudah tahu sendiri situasinya. Jadi hanya agar semua bisa diselamatkan,” jelas Ketua Paguyuban tersebut. 

Adanya penggunaan tenaga manual dalam pengerjaan proyek milik Kemen PU tersebut diabaikan serta cenderung dilakukan pembiaran oleh kontraktor lapangan, Alen. 

Halaman Selanjutnya
img_title