Ritual ‘Nunas Neda’ di Kesik Digelar, Warga Syukuran Hujan Bareng HUT Desa ke-123

Ratusan Masyarakat Desa Kesik ikuti Prosesi Gawe Adat Nunas Nede
Sumber :
  • Amrullah/VIVA Bali

Lombok Timur, VIVA Bali –Gawe Adat Nunas Neda kembali digelar masyarakat Desa Kesik, Kecamatan Masbagik, sebagai prosesi ritual ungkapan syukur atas datangnya musim penghujan. Tradisi ini dilaksanakan setiap tahun dengan rangkaian kegiatan yang dimulai dari sumber mata air Lingkoq Rametak hingga berakhir di Mataram Air Sumur Tirta Ratu.

Tujuh sumur yang menjadi titik pengambilan air disakralkan masyarakat dan dijaga para pemangku sebagai tetua adat yang memimpin prosesi. Untuk memulai upacara, warga membawa sajian tembolaq berisi makanan oleh puluhan perempuan suci yang berjalan dari mata air Rametak menuju Sumur Tirta Ratu, diiringi alunan gamelan.

Mata air tersebut diyakini memberi berkah bagi petani yang memanfaatkan air untuk lahan pertanian hingga kebutuhan lainnya. Tahun ini, Gawe Adat Nunas Neda disatukan dengan peringatan hari jadi Desa Kesik ke-123. Prosesi ini dinilai memberi makna lebih luas bagi perkembangan desa, selain sebagai penguatan identitas adat dan budaya.

“Hari jadi Desa Kesik ke-123 kita manfaatkan menjadi bagian dalam ritual adat Nunas Neda. Masyarakat memotong sebanyak 123 ekor ayam dan sapi sebagai bentuk rasa syukur kami,” ungkap Kepala Desa Kesik, M. Kadri, Senin, 17 November 2025. 

Ia menyebut Nunas Neda merupakan adat turun-temurun masyarakat Desa Kesik yang bertujuan memohon keselamatan dan hasil panen yang melimpah.

Ia menambahkan, puncak acara akan digelar di Lingkok Tirta Ratu yang dipercaya sebagai tempat mandi para ratu zaman dahulu dan memiliki sejumlah khasiat. 

“Konon ini dulu tempat mandi ratu karena dibuktikan dengan bekas kaki di salah satu batu dekat lingkok tersebut dan berbeda dengan bekas kaki manusia pada umumnya. Ini juga dipercaya oleh orang luar Kesik,” ujarnya.

Kadri berharap pelaksanaan ritual ini membawa perlindungan dari Sang Pencipta sehingga memberi kebaikan bagi masyarakat.

 “Acara ini merupakan simbol keberagaman dan kekayaan bumi Sasak dengan adat dan budaya bernuansakan Islami,” katanya.

 Penentuan hari ritual didasarkan pada perhitungan pemangku adat yang sebelumnya telah melaksanakan rangkaian kegiatan agar prosesi berjalan lancar.

Sebelum puncak acara, dilakukan pembersihan tujuh mata air yang dipimpin pemangku bersama pekasih dan subak, dilanjutkan ziarah ke situs atau makam leluhur. 

“Kami berharap acara Nunas Neda dapat digelar setiap tahun dan tetap dilestarikan sebagai budaya desa,” ujarnya.

Usai prosesi puncak, masyarakat dan tamu undangan menikmati sajian makanan di Lingkoq Tirta Ratu, yang juga menjadi destinasi wisata karena pemandangannya yang menarik dengan tatanan sawah menyerupai panorama di Bali.

img_title Dugaan Penipuan Dapur MBG di Lombok Timur, Kerugian Capai Ratusan Juta