Cegah Kasus DBD, Dinkes Denpasar Adakan Fogging di 39 Titik
- https://bali.antaranews.com/berita/391205/pemkot-denpasar-lakukan-pengasapan-ulv-di-39-titik-tekan-kasus-dbd
Denpasar, VIVA Bali –Pemerintah Kota Denpasar terus berupaya menekan peningkatan angka kasus demam berdarah dengue (DBD). Salah satu langkah yang dilakukan adalah melaksanakan kegiatan fogging menggunakan mesin ULV di 39 titik di seluruh wilayah Kota Denpasar selama 3 hingga 29 Oktober 2025.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Denpasar, dr. Anak Agung Ayu Agung Candrawati, mengatakan kegiatan fogging ini dilakukan secara bertahap setiap hari mulai pukul 03.30 hingga 06.30 Wita. “Ini adalah upaya kami untuk dapat menekan naiknya kasus DBD,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kota Denpasar, dr. Anak Agung Ayu Agung Candrawati. Jumat, 10 Oktober 2025.
Candrawati menjelaskan, pelaksanaan fogging dilakukan dengan memprioritaskan wilayah yang memiliki potensi penyebaran tinggi. Seperti daerah pemukiman padat penduduk dan kawasan dengan laporan kasus DBD terbaru.
Langkah ini juga dilakukan berdasarkan hasil pemetaan lapangan oleh petugas kesehatan dan puskesmas setempat. Selain kegiatan fogging, Dinkes Denpasar juga berkolaborasi dengan pihak puskesmas untuk memberikan edukasi dan sosialisasi terkait gerakan 3M Plus kepada masyarakat.
“Kami terus mendorong warga untuk menguras, menutup, dan mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk,” ujar dr. Candrawati. Dikutip dari antaranews.com.
Menurutnya, gerakan 3M tetap menjadi strategi utama dalam menekan penyebaran nyamuk penyebab DBD. Ia menegaskan bahwa partisipasi masyarakat sangat penting dalam keberhasilan upaya ini. “Gerakan seperti menguras dan menutup rapat tempat penampungan air, serta mendaur ulang barang bekas penampungan hujan adalah upaya sederhana namun sangat efektif,” tambah Kepala Dinkes Denpasar..
Dinas Kesehatan juga mengingatkan masyarakat agar tidak hanya bergantung pada fogging. Program ini bersifat sementara dan hanya membunuh nyamuk dewasa, sedangkan jentik tetap bisa berkembang jika kebersihan lingkungan tidak dijaga. Karena itu, edukasi kepada masyarakat menjadi langkah pencegahan yang paling berkelanjutan.