Dari Etalase Digital, Saat Oleh-oleh Bali Tak Perlu Menunggu Kedatangan Wisatawan ke Pulau Dewata

Pemilik Pie Susu Sisy, Sisy
Sumber :
  • Dewi Divianta/ VIVA Bali

Gianyar, VIVA Bali – Menikmati kue pie susu khas Bali kini tak lagi harus menunggu kesempatan berlibur atau menabung untuk terbang ke Pulau Dewata. Di tangan para pelaku UMKM yang jeli memanfaatkan ruang digital, batas geografis tersebut berhasil dipangkas menjadi peluang ekonomi baru.

img_title Jalur Menuju Pelabuhan Ketapang Dijaga 24 Jam, Polda Jatim Terjunkan 60 Personel

Salah satu pelaku usaha yang merasakan perubahan tersebut adalah Sisy (47), pemilik Pie Susu Sisy yang biasa kita lihat di hampir seluruh minimarket di Bali. Berawal dari hobi membuat aneka kue di dapur rumahnya, kudapan lezat buatan Sisy mulai dikenal dari mulut ke mulut hingga ia memberanikan diri menitipkan produknya di berbagai pusat oleh-oleh di Bali.

Awalnya, langkah ini berjalan manis. Pie susu buatannya mendapat respons positif dari wisatawan. Namun, Sisy ketar-ketir saat menyadari bahwa bergantung pada satu saluran penjualan fisik membuat usahanya rentan di tengah ketatnya persaingan pasar. Ancaman itu kian nyata saat pusat oleh-oleh tempatnya menitipkan produk mulai memproduksi pie susu sendiri.

img_title 16.000 Penonton Penuhi Stadion, Bali United Menang Tipis 2-1 Atas PSS Sleman

“Awalnya memang merintis dari hobi membuat kue. Lalu saya lihat pusat oleh-oleh sudah mulai membuat produk sendiri. Dari sana saya punya inisiatif untuk bergabung dengan penjualan digital Shopee,” ujar Sisy ditemui di outletnya di Denpasar, Senin 31 Agustus 2026.

Pada 2022, Sisy resmi memanfaatkan etalase digital di Shopee. Langkah awal tersebut memang tidak langsung menghasilkan lonjakan drastis. Di masa-masa awal bergabung, omzet penjualan Pie Susu Sisy masih berada di bawah Rp20 juta per bulan.

img_title Tatap Musim Baru, Bali United FC Jadi Klub Indonesia Pertama yang Gandeng Sponsor Jam Tangan Lokal

Namun, etalase digital memberi akses luar biasa yang menghubungkan produknya dengan konsumen di luar Pulau Bali, bahkan hingga pasar internasional melalui Program Ekspor Shopee. Sisy lalu memanfaatkan berbagai fitur promosi, seperti gratis ongkos kirim hingga affiliate marketing.

Strategi itu membuahkan hasil nyata. Penjualan bulanan yang tadinya berkisar Rp20 juta, melonjak drastis hingga mencapai Rp80 juta hingga Rp100 juta per bulan. Ruang digital memberi kesempatan bagi Pie susu buatan salah satu universitas di Yogyakarta itu untuk bersaing secara sehat dengan pengusaha oleh-oleh bermodal besar.

Kini, keberadaan pembeli yang selama bertahun-tahun sangat terikat pada angka kedatangan turis fisik telah bergeser ke ruang-ruang digital. Perang promo antar platform semakin memudahkan dirinya dan pelaku UMKM lainnya dalam menjalankan bisnis melalui metode promosi digital. Hasilnya, uap oven di dapur produksi Pie Susu Sisy makin sibuk beroperasi tanpa perlu mengkhawatirkan jangkauan pasar yang terbatas. Bagi wisatawan yang sedang berada di Bali, Susi tetap menyediakan produknya di outlet fisik milik sendiri serta toko-toko mitra.

Halaman Selanjutnya
img_title