Mahasiswa KKN 16 Untag Banyuwangi Edukasi Biopori Door to Door, Bangun Kesadaran Warga Kelola Sampah Organik
- Dovalent Vandeva Derico/ VIVA Bali
Banyuwangi, VIVA Bali – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 16 Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi, melaksanakan program Green Action melalui sosialisasi dan pendampingan pembuatan Lubang Resapan Biopori (LRB) dengan metode door to door di Desa Wonosobo, Kecamatan Srono, Kabupaten Banyuwangi. Program ini menjadi salah satu upaya mahasiswa dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah organik rumah tangga sekaligus mendorong terciptanya lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Program tersebut berangkat dari hasil observasi mahasiswa KKN yang menemukan masih adanya sejumlah tantangan di Desa Wonosobo, mulai dari perlunya penguatan literasi digital, pengembangan UMKM, pengelolaan lingkungan, hingga pelestarian sejarah desa. Salah satu fokus yang menjadi perhatian adalah pengelolaan sampah organik rumah tangga yang dinilai masih dapat dioptimalkan melalui edukasi kepada masyarakat.
Ketua KKN 16 Untag Banyuwangi, Moh. Fiqry Al Kadafi, mengatakan Desa Wonosobo dipilih karena memiliki potensi besar yang dapat terus dikembangkan melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat.
"Desa Wonosobo memiliki potensi yang sangat besar, baik dari sisi sumber daya manusia, budaya, maupun ekonomi. Namun setelah observasi awal, kami juga menemukan beberapa tantangan, seperti masih terbatasnya digitalisasi UMKM, perlunya penguatan literasi digital, pengelolaan lingkungan yang bisa lebih optimal, hingga belum terdokumentasikannya sejarah lokal secara baik. Hal-hal tersebut membuat kami melihat bahwa program KKN kami dapat memberikan kontribusi yang nyata dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat," ujarnya.
Sebagai bagian dari program lingkungan, mahasiswa memilih pendekatan door to door dalam memberikan edukasi pembuatan lubang resapan biopori kepada ibu rumah tangga. Metode tersebut dipilih karena dinilai lebih efektif dibandingkan sosialisasi massal, mengingat aktivitas masyarakat yang beragam serta memungkinkan mahasiswa memberikan pendampingan secara langsung di pekarangan rumah warga. Pendekatan ini juga sejalan dengan hasil pelaksanaan program yang menunjukkan metode door to door mampu meningkatkan pemahaman dan keterampilan masyarakat dalam mengelola sampah organik.
"Kami memilih metode door-to-door karena pendekatan ini jauh lebih efektif. Awalnya kami sempat mempertimbangkan sosialisasi massal, tetapi menyesuaikan aktivitas ibu-ibu rumah tangga yang waktu itu memiliki kegiatan bersama. Akhirnya kami datang langsung ke rumah warga sehingga komunikasi menjadi lebih santai, diskusi lebih interaktif, dan praktik pembuatan biopori bisa langsung dilakukan di pekarangan masing-masing," katanya.