MAN 3 Mataram Terapkan Pendidikan Pesantren Dalam Meningkatkan Karakter Siswa
- Ramli Ahmad/ VIVA Bali
Mataram, VIVA Bali –Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Mataram menjaga kualitas pembelajaran dengan tetap mengacu pada kuota kelas maksimal 20 orang per kelas, meskipun dalam pendaftaran terbaru sekolah mencatat penerimaan 30 siswa. Kepala sekolah, Lalu Mufti Sadri, menjelaskan, penambahan tersebut karena kepercayaan orang tua dengan sekolah masih menanamkan sistem “pondok pesantren” yang telah diterapkan oleh madrasah.
“Sekolah kita minimalis, satu kelasnya paling maksimal 20 orang. Kami menerima sesuai kuota menyesuaikan dengan ruang kelas yang terbatas,” kata Lalu Mufti Sadri dalam wawancara dengan VIVA Bali, Kamis 16 Juli 2026.
Sistem belajar pondok pesantren di MAN 3 Mataram belajar siswa dapat pengalaman pesantren, dirancang untuk memantau perkembangan akademik dan spiritual siswa yang mendapatkan mata pelajaran kitab pelajaran di madrasah. Menurut Lalu Mufti Sadri, perpaduan sistem belajar ini dapat mengembangkan potensi siswa mendapatkan pelajaran akademik dan penguatan keislaman.
“Kita juga menerapkan sistem pembelajaran pondok pesantren juga masih kami menggunakan. Jadi terkontrol betul siswanya,” tegasnya.
MAN 3 Mataram menekankan pada madrasah ini terutama menargetkan peserta didik dengan berlatarbelakang berbeda dan mengutamakan nuansa kondisi pesantren dalam pembelajaran. Kepala madrasah menambahkan, karena fokus pada karakteristik pesantren, madrasah tidak bersaing langsung dengan sekolah swasta besar yang memiliki profil siswa lebih heterogen.
Sebagai bagian dari upaya penguatan karakter dan keagamaan, MAN 3 Mataram memasukkan program tahfiz (hafalan Al‑Qur’an) dan tahsin (peningkatan pemahaman dan praktik ajaran Islam) ke dalam mata pelajaran agama. Program ini bertujuan memperkuat fondasi religi siswa agar lulusan memiliki pemahaman agama yang kuat, meskipun sebagian siswa masih datang dengan dasar pemahaman agama yang terbatas.
“Untuk mendukung program keagamaan MAN 3 melaksanakan tahsin dan tafsir dalam mata belajar. Sehingga lulusan memiliki pemahaman agama yang kuat,” terangnya kepada media VIVA Bali.
Lalu Mufti Sadri mengakui, infrastruktur sekolah masih terbatas karena keterbatan lahan. Namun pengembangan akan dilakukan secara bertahap agar tidak mengganggu aktivitas pembelajaran.
“Infrastruktur masih terbatas, terutama lahan untuk penambahan ruang belajar, namun sedang kita upayakan, sementara fasilitas belajar sudah memadai,” ujar Kepala MAN 3.