Hari Kedua Marathon IPO: Estafet ARA Berlanjut, $BACH Langsung Gembok Atas, $EMMI Parkir Positif
- https://www.idxchannel.com/market-news/targetkan-lebih-efisien-sro-luncurkan-sistem-e-ipo-dan-indeks-idx-quality30
Saham, VIVA Bali –Gelombang marathon e-IPO di Bursa Efek Indonesia (BEI) semakin memanas pada perdagangan hari kedua, Rabu 8 Juli 2026. Dua emiten yang melantai kemarin, PT Nitrasanata Dharma Tbk. ($JECX) dan PT Niramas Utama Tbk. ($JELI), kembali menunjukkan taringnya dengan mencetak Auto Reject Atas (ARA) berjilid.
Sementara itu, kluster kesehatan yang resmi melantai hari ini memberikan hasil bervariasi namun tetap positif, yaitu: $BACH langsung mengunci kemenangan telak, sedangkan $EMMI berhasil parkir di zona hijau meski gagal menyentuh benteng ARA.
$JECX dan $JELI Belum Mau Berhenti
Aksi borong saham pasca-IPO tampaknya masih jauh dari kata usai. Saham $JECX kembali melesat 25% dari perdagangan hari pertama, membawa harganya parkir di level Rp1.950 per lembar saham.
Nafsu beli retail maupun bandar di pasar terbukti belum reda; hingga penutupan bursa, antrian beli (bid) di harga ARA masih menyisakan 4,2 juta lot yang mengantri.
Jika dikonversi dengan harga saat ini, ada sekitar Rp819 miliar dana investor yang tertahan di satu titik harga tersebut, siap menyerap jika ada yang nekat melakukan aksi jual.
Pola yang sama serupa diikuti oleh $JELI. Emiten produsen dessert sehat berbasis kelapa dan serat alami ini melanjutkan tren naik hingga menyentuh level Rp1.405 per lembar, yang sekaligus menjadi batas ARA-nya hari ini.
Pada penutupan market sesi II, papan orderbook $JELI mencatatkan sisa antrian pembelian yang masih sangat tebal, yakni mencapai 1,8 juta lot, atau setara dengan perputaran modal tertahan sekitar Rp252,9 miliar.
Debut Manis Sektor Kesehatan: $BACH Sempurna, $EMMI yang Masih Wangi
Perhatian pasar hari ini juga tertuju pada dua pendatang baru dari kluster kesehatan yang resmi memulai pelayarannya di bursa. PT Bach Multi Global Tbk ($BACH) langsung menjadi primadona baru. Mengikuti jejak seniornya kemarin, $BACH langsung melesat ke titik tertinggi dan mengunci posisi ARA di harga Rp550 per lembar.
Antrean di papan bid $BACH pasca-penutupan tercatat sebesar 1,6 juta lot (setara Rp88 miliar), membuktikan bahwa pasokan barang di pasar sekunder untuk emiten ini juga terhitung langka.