Di Tengah Ancaman Geopolitik, Tomy Winata Sebut Bali & Indonesia Tetap Prospektif untuk Investasi
- Dewi Umaryati/ VIVA Bali
Badung, VIVA Bali –Pengusaha nasional Tomy Winata menegaskan Bali dan Indonesia masih menjadi wilayah yang sangat prospektif bagi investasi, meskipun dunia tengah menghadapi berbagai tantangan ekonomi dan geopolitik.
Menurut pendiri Artha Graha Network ini, pelaku usaha tidak perlu terlalu khawatir dengan kondisi pelemahan rupiah maupun dinamika ekonomi global, karena situasi ini bersifat sementara.
“Bukan hanya Bali. Bali dan Indonesia semuanya prospek. Yang penting kita ikuti aturan,” ungkap Tomy Winata saat ditemui di Discovery Kartika Plaza Hotel, Kuta, Rabu, 17 Juni 2026.
Kepada Bali.viva.co.id, Tomy mengaku optimistis dengan masa depan perekonomian Indonesia.
Sebagai seorang pengusaha, Tomy mengatakan dirinya selalu melihat peluang dan kemungkinan yang dapat berkembang menjadi lebih baik di masa depan.
“Kita pedagang melihat kesempatan, melihat kemungkinan dan melihat sesuatu yang saya kira akan muncul lebih baik,” kata Tomy lagi.
Tomy menilai Indonesia memiliki kekuatan dan strategi tersendiri dalam menghadapi tantangan global.
Karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat untuk tetap bersatu dan tidak mudah terpengaruh oleh isu-isu yang dapat memecah belah bangsa.
“Indonesia dibutuhkan dunia. Yang penting kita orang Indonesia bersatu. Jangan terpengaruh oleh kompor-kompor. Kita yakin saja sebagai orang Indonesia,” tegasnya.
Menurut Tomy, stabilitas dan persatuan nasional menjadi modal utama dalam menjaga kepercayaan investor terhadap Indonesia.
Meski optimistis, Tomy mengingatkan para investor agar tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.
Tomy Winata Optimistis Kondisi Geopolitik Dunia Hanya Sementara
- Dewi Umaryati/ VIVA Bali
Tomy menyarankan investasi dilakukan sesuai kemampuan finansial dan mengikuti regulasi yang berlaku.
“Yang penting jangan overinvest. Investasi sesuai dengan kekuatan kita yang masuk akal dan sesuai aturan pemerintah dan negara,” kata Tomy.
Tomy menilai pendekatan ini akan membantu investor menghadapi berbagai perubahan ekonomi tanpa menanggung risiko berlebihan.
Tomy melihat masa depan Bali tidak hanya bertumpu di sektor pariwisata semata.
Menurutnya, pertumbuhan wisata akan turun menggerakkan berbagai sektor lain seperti ekonomi kreatif, kuliner, seni budaya hingga pengelolaan situs sejarah dan keagamaan.
“Kalau pariwisata jalan, akomodasi perjalanan, ekonomi kreatif, kuliner, seni budaya juga ikut jalan,” katanya.