Sampah Plastik Jadi Musuh Utama Ekosistem Maritim Indonesia

Kolaborasi Pemerintah dan WWF Ditandai dengan
Sumber :
  • Dewi Divianta/ VIVA Bali

Badung, VIVA Bali –Puncak rangkaian acara Hari laut digelar di Peninsula Island, Nusa Du, Bali. Salah satu langkah konkret Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan WWF dan beberapa mitra upaya memperkuat pengelolaan penanganan sampah laut. Kerrjasama juga merambah perlindungan ekosistem pesisir, dan juga pengelolaan pulau-pulau kecil secara berkelanjutan.

img_title Kabur ke Jakarta, Pelaku Penembakan di Klub Malam Canggu Ditangkap

CEO WWF Indonesia, Aditya Bayunada menyebut kesehatan ekosistem laut adalah pondasi ketahanan pangan, ekonomi serta iklim Indonesia. “Masa depan Indonesia tergantung dengan ekosistem lautnya,” kata Aditya di Peninsula Island, Senin 8 Juni 2026.

Menurut Aditya 70 persen spesies karang dunia terdapat di kawasan segitiga karang (coral triangle) termasuk Indonesia. Namun, kawasan itu menghadapi ancaman serius akibat pencemaran khususnya sampah plastik.

img_title Penembakan di Klub Malam Canggu, 2 Orang Terluka

“Sampah laut yang ditemukan 90 persennya berasal dari daratan. Jadi yang kita lakukan di darat sangat berdampak pada kondisi laut di masa depan,” ujar dia.

Koswara mengaku, pemerintah sudah melalukan kerjadama dengan menggandeng beberapa perusahaan salah satunya di Maluku. 

img_title Koster Tekankan Layanan Publik Berkualitas demi Jaga Citra Pariwisata Bali

“Program pengurangan sampah yang masuk ke laut telah berjalan di sejumlah wilayah, termasuk DKI Jakarta dan Nusa Tenggara Barat, dan akan diperluas ke daerah lain,” tutur Aditya. 

Ironisnya, Aditya menjelaskan terkait keresahan adanya alat tangkap ikan yang ditinggalkan (abandoned fishing gear) menjadi perhatian. Nantinya, menurut dia limbah dari alat tangkap yang tertinggal di laut dinilai dapat mengancam terumbu karang, mamalia laut, seperti lumba-lumba hingga biota laut lainnya.

Kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan, Koswara menjelaskan upaya konservasi laut tidak hanya dilakukan melalui pembangunan kawasan konservasi atau perlindungan spesies laut, tetapi juga melalui tata kelola lingkungan berbasis masyarakat di daratan.

“Selain menggandeng nelayan dan swasta dalam mengumpulkan sampah yang sudah terlanjur masuk ke laut. Ada dukungan datang dari ranah internasional, termasuk bantuan teknologi pemantauan dan penanganan sampah laut yang ditemptkan di Sulawesi,” kata Koswara.

Menurut Koswara banyak dari pihak swasta bekerjasama dengan para pengelola pulau yang punya tempat pariwisata.

Pemerintah membocorkan pihak-ohak sawasta yang turut terlibat menjaga kawasan konservasi sangat banyak. Namun, saat ditanya jumlah dan namanya ia mengaku akan memberikan datanya setelah acara berlangsung. 

Halaman Selanjutnya
img_title